Pengusaha Makanan Paling Terdampak Anjloknya Rupiah Terhadap Dolar AS

04/07/2018, 14:57 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Industri makanan dan minuman paling terdampak anjloknya Rupiah (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Nilai tukar Rupiah saat ini sedang terseok-seok lantaran terapresiasinya Dolar Amerika Serikat (AS) yang terus perkasa. Beberapa kebijakan pemerintah untuk meredam penurunan Rupiah pun belum direspon positif oleh para pelaku pasar.

Gejolak kurs tersebut juga dirasakan oleh para pelaku usaha di sektor industri makanan dan minuman. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengatakan, terutama bagi perusahaan yang produk makanan dan minuman yang didominasi oleh impor.

“Jelas sangat berat karena dolar saat ini sudah menembus Rp 14.500, prakteknya dampaknya sudah lebih dari itu,” kata Adhi di acara Press Conference Food Ingredients Asia di Hotel JW Marriot, Jakarta, Rabu (4/7).

Adhi mengeluhkan, para pelaku industri mamin sudah mengalami depresiasi sebesar 8 persen hingga 10 persen dari tahun lalu. Ditambah, pelemahan Rupiah saat Ini membuat para pelaku industri mamin terpaksa melakukan penyesuaian produk karena bahan baku yang biasa digunakan industri makanan dan minuman kebanyakan impor.

“Belum lagi angkutan logistik juga ikut naik akibat harga BBM yang juga meningkat. Makanya kami lakukan penyesuaian harga,” ujarnya.

Adhi menuturkan, strategi perusahaan yang terkena dampak kurs tersebut tak serta merta bisa menaikkan harga produk karena butuh waktu sekitar dua bulan sebagai toleransi. Sehingga, pihaknya akan menyiasati dengan beberapa cara, di antaranya mengubah ukuran produk dan mengubah bahan bungkus produk.

“Omzet kami di periode pertama tahun ini hanya 30 persen, sementara pengeluaran kami mencapai 200 persen. Ini karena banyaknya libur di Juni kemarin juga, kami harus bayar THR untuk karyawan, sementara produktivitas tak mengimbangi,” tandasnya.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi