JawaPos Radar

Sektor Ritel Rontok Jadi Momentum Start-up Lokal Berjaya

02/11/2017, 08:52 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
Alfie Othman
Direktur Eksekutif Singapore Center for Social Enterprise (raiSE) Alfie Othman (Rieska Virdhani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Masifnya perkembangan teknologi menjadikan budaya masyarakat dunia berubah cepat. Di sektor ekonomi perubahan tersebut terlihat dari pola belanja dari toko offline ke belanja online.

Akibatnya, satu persatu sektor ritel rontok dan memutuskan untuk menutup gerai mereka. Di Indonesia, label Lotus dan Debenhams pun tumbang karena aktivitas belaja online semakin gencar.

Pakar Start-up yang juga Direktur Eksekutif Singapore Center for Social Enterprise (raiSE) Alfie Othman menilai generasi baru saat ini yakni milenial, memiliki pola pikir yang sangat cepat. Generasi zaman now harus pandai membangun kreativitas. Tutupnya banyak gerai saat ini menjadi momentum agar start-up yang dikelola anak muda lokal makin berjaya.

"Era digital adalah suatu keadaan yang sesungguhnya. Ini adalah model bisnis tentu saatnya label lokal lebih berjaya, bukan asing. Di Indonesia saya menilai saat ini Presiden Joko Widodo mendukung segala infrastruktur teknologi dalam perubahan budaya ini," katanya saat berbincang dengan wartawan bersama Singapore International Foundation (SIF), Rabu (1/11).

Alfie menegaskan momentum ini wajib dimanfaatkan oleh pasar lokal. Dia mendorong para wirausahawan muda tetap bergerak berkreasi dan inovatif. "Bagi saya bisnis tetep bisnis. Mau itu start-up atau ritel. Banyak start-up anak muda usia 20-25 tahun harus berpikir," katanya.

Alfie menilai para start-up harus memiliki tiga kunci utama untuk tetap bertahan dan sukses. Ketiganya adalah Why (mengapa), How (bagaimana), Tangible (nyata/berwujud).

"Why, start-up harus berpikir mengapa mereka melakukan itu, faktor apa. Bagaimana, banyak hal yang harus dilakukan selanjutnya. Dan Tangible, tentu berpikir soal gairah untuk mendapatkan profit dan lainnya," papar Alfie.

Alfie Othman adalah sosok yang sukses di Singapura dalam membangun pusat lembaga perusahaan sosial di Singapura lewat Center for Social Enterprise (raiSE). Sosok pria yang juga memiliki darah Indonesia ini membangun lembaganya sejak tahun 2015 yang memiliki banyak anggota startup perusahaan sosial.

RaiSE berharap dapat menggabungkan komunitas usaha sosial yang lebih besar, bersama wirausahawan sosial dan organisasi pendukung dan individu melalui berbagai program. Dengan jaringan yang terus berkembang, raiSE menjadi bagian aktif masyarakat yang lebih peduli dan inklusif di Singapura.

Alfie memiliki karir perbankan yang sukses lebih dari 12 tahun, dan mencurahkan waktu yang signifikan untuk sektor publik dan masyarakat sipil. Dia mendirikan industri dapur katering pada tahun 2004, yang menyediakan pekerjaan bagi pekerja dari sektor-sektor yang terpinggirkan, seperti mantan narapidana, ibu tunggal, dan kaum disabilitas.

Selanjutnya, Alfie bergabung dengan komite pro anggota empat anggota untuk membentuk Asosiasi Perusahaan Sosial (SEA Enterprise) sebagai Direktur Eksekutifnya mulai 2013 hingga 2014. SEA mewakili salah satu perantara penting di sektor sosial yang memiliki basis keanggotaan yang dekat dengan 450 anggota. Alfie juga memprakarsai pembentukan skema kredit mikro perkotaan pertama di Singapura yang diluncurkan pada bulan November 2011. Dia juga menjadu penasihat PT JavaCrop, sebuah proyek perkebunan masyarakat dan BMT Ventura, perusahaan investasi yang mengelola koperasi keuangan mikro dengan basis keanggotaan 2,2 juta orang di Indonesia.

(ika/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up