← Beranda

Ekonom Soroti Kinerja Telkom, Harga Saham Jeblok Plus Internet Lelet

Teguh Jiwa BrataRabu, 25 April 2018 | 11.30 WIB
Ilustrasi pelayanan Telkom

JawaPos.com - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudistira menyoroti kinerja PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, (Telkom). Menurutnya, merosotnya performa Telkom ikut berdampak kepada perekonomian secara makro.


"Telkom sudah mencatat penurunan harga saham 11 persen. Di periode yang sama, asing mencatatkan aksi jual bersih atas saham Telkom sebesar Rp 1,57 triliun. Penurunan ini jauh lebih besar dibandingkan penurunan harga saham rata-rata saham emiten BUMN yang meredup di sepanjang tahun ini," ujarnya dalam diskusi di Cikini, Jakarta, Selasa (24/4).


Penurunan performa Telkom juga diikuti anjloknya harga saham emiten BUMN dan anak usahanya, dengan penurunan rata-rata 6 persen. Sementara itu harga saham Telkom juga turun 11 persen.


"Sebagai BUMN yang punya sumber daya besar, harga saham PT Telkom yang di bawah 4.000 dan turun hingga 11 persen itu sangat buruk dan akan mempengaruhi IHSG, negatif di pasar modal kita. Dan Rupiah juga terkena, karena faktor fundamental yaitu kinerja BUMN yang kapitalisasinya juga besar," tuturnya.


Rasio utang terhadap aset dalam 3 tahun terakhir menurut dia juga terus menurun. Debt to asset ratio 2014 15 kali tapi di, 2017 jadi 18 kali saja. Artinya kenaikan utang Telkom dibanding aset tidak sejalan dan kinerja utang tidak berhubungan.


"Debt to equity juga di 2014 itu ada 26 kali jadi 32 kali di 2017. Artinya ada penyakit di tata kelola Telkom, kinerjanya tidak optimal karena pengelolaan yang kurang produktif. Ini dialami sebagian besar BUMN, terutama Telkom. Padahal perkembangan Telkom harusnya seiring dengan perkembangan digital yang sejak 2014 booming," jelas dia.


Di sisi lain, pria asal Pamekasan ini juga menyoroti lambatnya kecepatan internet Indonesia yang ada di posisi 52 dari 63 negara. Hal itu dinilai tak mendukung upaya pemerintah mengembangkan e-commerce maupun financial technology (Fintech). 


"Kecepatan bandwidth internet Indonesia masih di urutan 52 dari 63 negara, jadi internetnya masih lambat. Bagaimana bisa kembangkan E-commerce dan fintech? Apalagi making 4.0? Kalau mau Pertumbuhan Ekonomi 5,4 persen, jangan sia-siakan momentum bisnis digital yang sedang tumbuh. BUMN khususnya Telkom juga harus berkinerja dengan baik,” tutupnya.

EDITOR: Teguh Jiwa Brata