JawaPos.com - Pasar saham Indonesia dibuka zona merah di level 8.092 pada perdagangan Senin (2/3). Bahkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan tetap membara di level 8.111, turun 1,50 persen atau 123 poin, pada pukul 09.10 WIB.
Mengutip data RTI Business, pada perdagangan awal sesi ini ada sebanyak 79 saham tercatat menguat, 619 saham melemah, dan 36 saham tidak mengalami pergerakan alias stagnan.
Sementara itu, volume transaksi di perdagangan tercatat 7.791 saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 4.696 triliun. Adapun frekuensi transaksi tercatat 558.663 kali.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi menyampaikan bahwa IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatile dengan kecenderungan konsolidasi dengan support di 8031 dan resistance di 8437. Pergerakan itu nantinya dipengaruhi oleh meningkatnya risiko geopolitik global dan sentimen fiskal domestik.
"Eskalasi konflik Iran–Israel serta ketegangan di kawasan Asia Selatan meningkatkan premi risiko global, terutama dengan berkembangnya situasi di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia," kata Imam Gunadi dalam keterangannya, Senin (2/3).
Dia menilai, ketidakpastian ini berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, yang biasanya memicu rotasi dana ke aset safe haven dan menekan arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia.
Namun demikian, bagi IHSG, kenaikan harga minyak dan batu bara justru dapat menjadi penopang bagi sektor energi dan pertambangan, terutama jika harga komoditas bertahan tinggi.
Di sisi lain, Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi berpotensi diuntungkan dari sisi peningkatan harga jual rata-rata (ASP) dan potensi perbaikan margin emiten sektor terkait.
Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global.
"Di sisi lain, jika eskalasi konflik menyebabkan lonjakan harga energi yang terlalu tajam dan berkepanjangan, risiko inflasi global dan tekanan nilai tukar Rupiah dapat meningkat. Kenaikan harga minyak yang signifikan berpotensi memperbesar tekanan pada neraca transaksi berjalan melalui kenaikan nilai impor migas, sekaligus meningkatkan volatilitas Rupiah," bebernya.
Ia pun mengungkapkan jika Rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik maka volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.
"Dengan demikian, arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek sangat bergantung pada apakah kenaikan harga energi bersifat terkendali dan suportif bagi emiten komoditas, atau justru berubah menjadi shock inflasi yang menekan stabilitas makro," tukasnya.
Merespons dinamika market yang ada saat ini, IPOT merekomendasikan sejumlah saham yang bisa dipertimbangkan untuk trading sepanjang pekan ini:
1. Buy on Breakout ENRG (Entry 1,820, Target 2,000, Stop Loss <1,755). Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan potensi gangguan distribusi energi global, ENRG memiliki positioning yang menarik sebagai emiten hulu migas dengan leverage terhadap kenaikan harga minyak dan gas. Jika risiko di Selat Hormuz mendorong harga energi bertahan tinggi, ENRG berpotensi menikmati peningkatan average selling price (ASP) serta perbaikan arus kas operasional. Dengan karakter bisnis berbasis produksi dan lifting, sensitivitas terhadap harga komoditas menjadi katalis utama, sehingga saham ini relevan sebagai tactical play dalam fase risk-off global yang tetap mendorong harga energi naik.
2. Buy on Breakout ARCI (Entry 1,900, Target 2,030, Stop Loss <1,840). Sebagai produsen emas, ARCI berpotensi diuntungkan dari peningkatan permintaan safe haven akibat eskalasi konflik global dan volatilitas pasar keuangan. Dalam situasi ketidakpastian geopolitik dan potensi tekanan nilai tukar, emas cenderung menguat sebagai aset lindung nilai terhadap risiko dan inflasi. Kenaikan harga emas global akan berdampak langsung pada margin dan profitabilitas ARCI, terutama jika biaya produksi relatif stabil. Dengan demikian, ARCI dapat berfungsi sebagai hedge terhadap gejolak eksternal sekaligus memberikan eksposur pada tren penguatan logam mulia.
3. Buy on Breakout HMSP (Entry 910, Target 980, Stop Loss <875). Sebagai saham defensif berbasis consumer staples, HMSP menawarkan karakter pendapatan yang relatif stabil di tengah volatilitas pasar. Permintaan produk rokok domestik cenderung tidak terlalu sensitif terhadap siklus ekonomi jangka pendek, sehingga memberikan ketahanan arus kas ketika sentimen global memburuk. Dalam kondisi risiko geopolitik dan potensi tekanan eksternal terhadap IHSG, saham defensif seperti HMSP dapat menjadi penyeimbang portofolio.