JawaPos.com - Nilai tukar Rupiah telah tembus di angka Rp 14.000-an per USD. Angka ini kemudian dikritik oleh berbagai pakar ekonomi Indonesia. Apalagi, kenaikan ini diikuti dengan kenaikan harga bahan pokok.
Mantan Menteri Keuangan era Soeharto, Fuad Bawazier mengaku, nilai kurs Rupiah jauh lebih stabil dibandingkan saat 19 tahun atau 1998 silam.
"Dulu 1997-1998 ketika ada tekanan ini, dalam persentase perubahan nilai tukar jauh lebih besar dari sekarang karena itu dari Rp 2.400 sampai Rp 10.000-an. Berapa persen (kenaikannya)?" kata Fuad di Kantor DPP PAN, Jakarta, Rabu (9/5).
Meski demikian, pria yang telah menjadi kader Gerindra itu menuturkan, kondisi ekonomi pemerintahan zaman Soeharto jelas berbeda dengan pemerintahan Jokowi. Kala itu, pemerintahannya tak memiliki masalah keuangan selayaknya sekarang.
"Dulu (krisis moneter) permasalahan keuangan karena swasta, jadi sekarang yang diserang pemerintahannya," tuturnya.
Apalagi, lanjut Fuad, saat ini kenaikan nilai tukar Rupiah pun diiringi dengan berbagai kebutuhan hidup masyarakat yang ikut naik. Misalnya saja, subsidi yang dicabut, adanya inflasi, maraknya impor, dan kenaikan harga berbagai bahan pokok.
Jika terus-terusan seperti ini, dia khawatir kejadian krisis moneter akan terulang. Baginya, solusinya hanya satu, yakni ganti presiden.
"Solusinya? 2019 ganti presiden," tutupnya.