alexametrics

Meski Resesi tapi Jerman Bisa Redam PHK, Apa Indonesia Bisa?

31 Juli 2020, 19:21:31 WIB

JawaPos.com – Perekonomian Jerman terjun bebas pada kuartal-II 2020 turun 10,1 persen secara kuartalan (dibandingkan kuartal-I 2020). Sementara itu secara tahunan (dibandingkan kurtal-II 2019), ekonomi Jerman telah menyusut 11,7 persen.

Meskipun demikian, tingkat pengangguran Jerman hanya 4,2 persen pada akhir Juni, naik tipis dari posisi akhir Maret yang sebesar 3,8 persen. Itu berarti, hanya 203 ribu orang yang kehilangan pekerjaan dan menjadikan total penganggur di Jerman sebanyak 1,86 juta orang.

Sebagai pembanding, tingkat pengangguran di Uni Eropa pada akhir Juni mencapai 7,1 persen, naik dibandingkan posisi akhir Maret yang sebesar 6,5 persen. Resesi di sejumlah negara maju menjadi alarm bagi Indonesia.

Menurut Ekonom Indef Bhima Yudhistira, kalaupun Indonesia mengalami kondisi serupa, pemerintah bisa mengupayakan berbagai hal agar tingkat pengangguran tidak naik tinggi seperti Jerman. Misalnya, stimulus ekonomi diperbesar.

Bhima mengatakan, total stimulus Jerman terhadap PDB-nya mencapai lebih dari 40 persen. Memang, daya tahan fiskal antara negara maju dan berkembang berbeda.

Namun menurutnya, stimulus ekonomi yang digelontorkan pemerintah Indonesia saat ini masih sangat tipis. Baru kisaran 4 persen. Bhima menyarankan, stimulusnya diperbesar hingga minimum 10 persen dari PDB.

“Saat ini satu satunya harapan datang dari belanja pemerintah untuk meredam PHK massal,” ujarnya saat dihubungi oleh JawaPos.com, Jumat (31/7).

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah memberikan subsidi gaji ke pekerja. Jerman mempunyai kebijakan ini, namun Indonesia tidak.

“Model Kartu Prakerja itu salah sasaran. Sebaiknya seluruh anggaran Kartu Prakerja dialihkan untuk subsidi gaji,” tuturnya.

baca juga: Keren! Meski Ekonomi Merosot 10,1 Persen, PHK di Jerman Bisa Direm

Terakhir, Jerman mempunyai banyak teknokrat dalam jajaran kanselirnya. Sedangkan Indonesia, lebih banyak politisi yang mengisi struktur kabinet.

“Terlalu banyak politisi. Padahal kebijakan berbasis sains diperlukan untuk menangani pandemi secara serius,” pungkasnya.

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Jerman pada kurtal-II 2020 menjadi capaian kuartalan terburuk sejak pertama kali pencatatan oleh Kantor Statistik Federal, Destatis, pada 1970. Pandemi virus korona telah memberikan pukulan pada kegiatan ekspor, investasi, dan konsumsi.

Dilansir dari theLocalGermany, Jumat (31/7), Destatis menyebut, kontraksi akibat virus korona ini merupakan kondisi ekonomi yang lebih buruk dibandingkan saat krisis finansial 2008-2009.

 

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Romys Binekasri



Close Ads