alexametrics

Bagaimana Virus Korona Bisa Menggerogoti Pertumbuhan Ekonomi RI?

30 Januari 2020, 17:27:53 WIB

JawaPos.com – Penyebaran virus korona berpotensi memengaruhi perekonomian dunia, tidak terkecuali Indonesia. Penyebaran virus ini dikhawatirkan dapat menyebabkan perlambatan ekonomi nasional.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu melambatnya perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok. Perlambatan ini disebabkan oleh masifnya larangan bepergian dari dan ke beberapa kota di Provinsi Hubei, Tiongkok dan penutupan sejumlah akses transportasi ke beberapa kota dari dan ke Provinsi Hubei, Tiongkok.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Ira Aprilianti mengatakan, larangan bepergian dan penutupan sejumlah transportasi tersebut menyebabkan terganggunya kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi. Hal ini pada akhirnya memengaruhi perekonomian Tiongkok dan negara-negara yang memiliki hubungan dagang erat dengannya.

Ira menambahkan, Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Indonesia. Dengan adanya perlambatan ekonomi, permintaan barang ekspor dari Indonesia ke Tiongkok juga akan menurun. Begitu juga impor. Indonesia kemungkinan besar akan mengalami kesulitan mengimpor barang dari Tiongkok karena melambatnya kegiatan produksi di sana akibat penyebaran virus korona.

“Contohnya obat-obatan. Indonesia mengimpor bahan baku dari India dan Tiongkok. Perlambatan ekonomi Tiongkok akan membuat industri farmasi Indonesia terdampak. Walaupun begitu belum bisa dikalkulasi berapa besar dampaknya serta bagaimana respons industri untuk mensubstitusi kebutuhan industri. Belum bisa dikalkulasi juga apakah ekspor Indonesia melambat karena menurunnya konsumsi di Tiongkok,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis (30/1).

Berdasarkan data dari peta dagang, pada 2018 nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai USD 17,126 miliar dari total nilai ekspor Indonesia senilai USD 180,215 miliar. Nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok terus mengalami peningkatan. Pada 2016 dan 2017, nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok masing-masing senilai USD 16,785 miliar dan USD 23,049 miliar.

Ada beberapa alternatif untuk mengurangi dampak ekonomi dari penyebaran virus korona bagi Indonesia. Ira menjelaskan, industri harus siap untuk menyesuaikan kondisi pasar yang artinya mencari substitusi atau alternatif negara tujuan ekspor dan negara asal impor sehingga kegiatan produksi dapat terus berjalan.

“Industri diharapkan mampu untuk menemukan negara yang memiliki keunggulan komparatif di industri yang bersangkutan. Contohnya, industri diharapkan mampu menemukan alternatif negara destinasi ekspor dan negara yang membutuhkan produk yang diekspor oleh Indonesia, seperti Vietnam atau negara-negara ASEAN,” tuturnya.

Selain itu, Indonesia harus mempertimbangkan negara-negara nontradisional yang berpotensi besar untuk menyerap produk-produk ekspornya. Pemerintah harus segera menganalisis dengan baik seputar keuntungan yang selama ini telah diperoleh dari transaksi perdagangan internasional dengan negara nontradisional.

Ira menyarankan, Indonesia tidak hanya mengandalkan ekspor ke negara-neraga yang sudah ada perjanjian dagangnya. Tetapi harus melebarkan sayap ke negara-negara nontradisional dengan memperhatikan pasar dan kebutuhan di negara tersebut.

“Perlu adanya upaya untuk membentuk segmen pasar dalam negeri yang mampu menyediakan kebutuhan-kebutuhan negara nontradisional. Beberapa negara-negara non tradisional mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik dan tepat bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor ke negara tersebut,” pungkasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Romys Binekasri



Close Ads