alexametrics

Ganjar Pranowo Jawab Tantangan Sri Mulyani PDRB Jateng 7 Persen

29 Februari 2020, 07:30:00 WIB

JawaPos.com – Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo mendapat tantangan dari Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati yaitu pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jateng mencapai 7 persen. Tantangan itu disampaikan Sri Mulyani setelah Jateng menyabet penghargaan provinsi dengan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (PPD) terbaik 2019 dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

“Bu Sri Mulyani ngomong, ‘Pak Ganjar kan perencanaan pembangunannya udah the best nih, paling baik. Tapi kalau pertumbuhan ekonominya di atas nasional sedikit, ya kurang. Kalau cuma 5,41 persen'” kata Ganjar menirukan Sri Mulyani.

Namun, Ketua Umum Kagama ini mengakui tantangan dari mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu tak mudah ditaklukkan. Apalagi saat ini ekonomi global tengah mengalami perlambatan, ditambah mewabahnya virus korona.

“Ini tantangan yang berat. Saya tahu ini tidak ringan apalagi ada tambahan wabah virus korona,” katanya kepada JawaPos.com di Jogjakarta, baru-baru ini.

Akan tetapi, setelah berdiskusi dengan Sri Mulyani, Ganjar pun mendapat pencerahan. Dia sepakat dengan analisis Sri Mulyani bahwa konsumsi Jateng sangat rendah.

“Makanya harus ditingkatkan lagi. Tapi beberapa (sumber pertumbuhan ekonomi) yang lain treknya sudah betul,” lanjut politikus PDIP tersebut.

Konsumsi rumah tangga Jateng pada 2019 di bawah nasional. (source: Jateng.bps.go.id)

Dia merinci upaya yang sudah betul antara lain deregulasi dan debirokratisasi, serta insentif-insentif untuk menarik investor. Bagian ini sudah dilaksanakan untuk menyerap tenaga kerja Jateng yang suplainya memang besar.

“Sebetulnya syarat-syarat yang Jateng punya itu sudah dipenuhi. Sekarang tinggal dorong, promo untuk mengajak mereka (investor) masuk,” imbuh Ganjar.

Meski begitu, Ganjar mengaku tak akan membabi buta dalam memberikan izin usaha. Ada dua hal yang menjadi pertimbangan Jateng, yakni tata ruang dan lingkungan agar tidak rusak.

Pertimbangan lainnya adalah soal pembiayaan. Maka dari itu, lanjut Ganjar, pemerintah provinsi juga mengajak kabupaten/kota, investor, dan pemangku kepentingan lain. Sehingga pembangunan tak hanya mengandalkan APBD yang terbatas.

“Maka investor, KPBU, dana pinjaman, menyiapkan obligasi dan seterusnya. Nah, ini beberapa langkah yang coba akan kami eksekusi,” jelasnya.

Sementara itu, ketika ditanya kapan kira-kira tantangan dari Sri Mulyani itu bakal tercapai, Ganjar berkomitmen hingga akhir masa jabatannya akan mengupayakan hal tersebut. Dia berharap ekonomi global segera pulih, sehingga target bisa tercapai sebelum pensiun sebagai gubernur.

“Cuma naga-naganya ketika ini kami mulai, gangguannya sudah lebih besar dulu. Perlambatan ekonomi dunia, ada virus korona,” katanya seraya mengamini, keputusan AS keluarkan Indonesia dari daftar negara berkembang juga jadi faktor pemberat.

Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi Jateng 2019 berada di level 5,41 persen. Realisasi PDRB Jateng meningkat dibandingkan capaian sebelumnya yakni sebesar 5,25 persen pada 2016, 5,26 persen pada 2017, dan 5,31 persen pada 2018.

Capaian tersebut di atas laju pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,03 persen (2016), 5,07 persen (2017), 5,17 persen (2018), dan 5,02 persen (2019). Akan tetapi, dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga Jateng 2019 hanya tumbuh 4,62 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga nasional yang mencapai 5,04 persen.

Editor : Estu Suryowati



Close Ads