alexametrics

PHRI: Keamanan, Kesehatan, dan Harga Tiket jadi Kunci Pertumbuhan

28 Januari 2020, 23:00:03 WIB

JawaPos.com – Para pelaku industri berharap aktivitas bisnis pada 2020 bebas tekanan. Meski sinyal perbaikan ekonomi belum sepenuhnya hijau, mereka optimistis kinerja tahun ini lebih baik. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyebut isu keamanan dan harga tiket sebagai faktor penting pertumbuhan.

Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani menyatakan, industri hotel, pariwisata, dan yang berkaitan dengan leisure lainnya sangat sensitif terhadap keamanan. Termasuk isu kesehatan.

Biasanya, wabah penyakit, bencana alam, dan terorisme selalu memperlambat arus wisatawan. Karena itu, mengenai potensi persebaran virus korona di Indonesia, dia berharap pemerintah serius memberikan jaminan keamanan dan kesehatan.

“Keamanan dan kesehatan. Dua isu itu bisa bikin pariwisata jeblok,” kata Hariyadi.

Karena itu, dia maklum jika pemerintah sangat berhati-hati menjaga reputasi yang berkaitan dengan keamanan dan kesehatan. Khususnya terkait dengan virus korona yang belakangan menjadi momok bagi masyarakat.

Sejauh ini, menurut Hariyadi, belum ada dampak signifikan virus korona di Indonesia. Arus kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) juga masih stabil. Namun, hal tersebut perlu diperhatikan dengan serius. Pemerintah perlu memperketat pengawasan di bandara dan pintu-pintu masuk wisman lainnya.

“Saat ini dampaknya belum besar. Turis dari negara lain (selain Tiongkok, Red) juga masih besar,” ujarnya.

Terlepas dari masalah keamanan yang sifatnya lebih kondisional, PHRI tetap menyoroti masalah utama yang sangat berpengaruh pada okupansi hotel. Yakni, harga tiket pesawat. Hariyadi sangat berharap kementerian-kementerian yang saat ini dihuni banyak pemimpin baru benar-benar mengupayakan penurunan harga tiket.

Langkah Kementerian BUMN yang mengevaluasi total maskapai penerbangan pelat merah Garuda Indonesia sangat diapresiasi PHRI. Hariyadi menganggap perubahan manajemen bisa melahirkan formulasi harga tiket yang lebih baik dan jauh daripada potensi kartel.

“Tentu saja, kami memiliki harapan besar agar harga tiket bisa lebih rasional,” tuturnya.

Hariyadi menuturkan, Komisaris Utama Garuda Indonesia Triawan Munaf dan Wakil Komisaris Utama Chairal Tanjung merupakan orang-orang yang dekat dengan pengusaha. Dia pun berharap komunikasi dengan pengusaha akan lebih baik.

“Tarif kargo udara yang mahal juga menyulitkan logistik pengusaha hotel. Masalah itu memengaruhi konektivitas dan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

TREN KUNJUNGAN WISMAN

Tahun | Kontribusi

2015 | 10,23 persen

2016 | 11,52 persen

2017 | 14,04 persen

2018 | 15,81 persen

2019 | 14,92 persen*

*Keterangan: Data Januari–November 2019

Sumber: BPS

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (agf/c14/hep)



Close Ads