JawaPos Radar

Dibayangi Perang Dagang, RI Ajukan Tiga Permintaan ke Mendag AS

27/07/2018, 11:42 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Dibayangi Perang Dagang, RI Ajukan Tiga Permintaan ke Mendag AS
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Masih dalam rangkaian kunjungan kerja ke Amerika Serikat, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita beserta jajaran akhirnya bertemu dengan Menteri Perdagangan Wilbur Ross. Ada tiga hal yang diajukan pemerintah dalam pertemuan yang berlangsung pada Selasa (24/7) kemarin.

Pertama, adalah mengenai fasilitas Generalyzed System of Preferences (GSP) yang sedang diteliti oleh pemerintah Amerika. Politikus Nasdem itu meminta dukungan penuh dari Menteri Ross agar Indonesia tetap mendapatkan fasilitas GSP setelah Pemerintah AS meninjau ulang Indonesia sebagai negara penerima GSP.

Kedua, Enggar meminta Pemerintah AS mengecualikan Indonesia dari pemberlakuan kenaikan tarif impor produk besi baja dan aluminium. "Produk besi baja dan aluminium dari Indonesia bukanlah pesaing produk lokal di AS. Besi baja dan aluminium produksi Indonesia berbeda dengan diproduksi di AS dan pangsa pasarnya berbeda,” kata Mendag Enggar di Washington DC melalui keterangan resmi, Jumat (27/7).

Menanggapi permintaan pengecualian dari pengenaan tarif impor produk-produk baja dan aluminium, Menteri Ross menyatakan pertimbangan positif akan diberikan jika produk Indonesia tersebut spesifik dan tidak diproduksi oleh industri dalam negeri AS.

Ketiga, adalah menyusun peta jalan untuk mewujudkan peningkatan perdagangan antara dua negara. Enggar menyebut target peningkatan perdagangan RI dan AS harus dibarengi dengan sebuah peta jalan yang penyusunannya harus melibatkan pihak swasta kedua negara.

"Kami mengusulkan target perdagangan USD 50 miliar, dan Menteri Ross menyambut ajakan tersebut secara positif," katanya.

Selain membahas peningkatan target Indonesia–AS, Mendag Enggar mengajak Menteri Ross berdiskusi tentang akses pasar perdagangan barang dan jasa, investasi di Indonesia, hingga isu pertanian, perdagangan digital, dan layanan finansial.

Isu-isu pertanian seperti kedelai, hortikultura, dan produk susu turut dibahas. Kedua Menteri juga membahas kebijakan maritim baru AS yaitu seafood import monitoring program (SIMP) agar tidak memengaruhi akses perikanan Indonesia ke pasar AS.

Total nilai perdagangan Indonesia dengan AS mencapai USD 25,9 miliar di 2017. Dari jumlah tersebut, ekspor Indonesia mencapai USD 17,79 miliar dan impor Indonesia sebesar USD 8,12 miliar, sehingga neraca perdagangan Indonesia terhadap AS surplus USD 9,67 miliar.

(ce1/uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up