
Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX), Yazid Kanca Surya/(Istimewa).
JawaPos.com - Indonesia didorong memperkuat mekanisme pembentukan harga (price discovery) komoditas di dalam negeri agar memiliki harga referensi yang lebih mencerminkan kondisi pasar nasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada acuan harga internasional, terutama bagi komoditas strategis seperti minyak sawit.
Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi strategis untuk membangun harga referensi domestik yang lebih kredibel melalui aktivitas perdagangan yang berlangsung secara transparan, likuid, dan berkesinambungan.
Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX), Yazid Kanca Surya, mengatakan harga referensi yang kuat tidak lahir dari penetapan sepihak, melainkan dari transaksi yang benar-benar mencerminkan interaksi antara penawaran dan permintaan di pasar.
"Harga referensi dibangun melalui proses price discovery. Ketika transaksi berlangsung secara terbuka, melibatkan banyak pelaku pasar, dan dilakukan secara berkesinambungan, harga yang terbentuk akan semakin mencerminkan kondisi pasar yang sesungguhnya. Dari proses inilah lahir harga referensi yang kredibel," ujar Yazid, di Jakarta, Selasa (4/8).
Menurutnya, penguatan price discovery menjadi semakin relevan bagi Indonesia yang memiliki peran penting dalam perdagangan komoditas strategis, termasuk minyak sawit. Selama ini, pelaku usaha masih banyak mengacu pada benchmark internasional sebagai referensi harga.
Padahal, sebagai produsen utama, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat pembentukan harga di dalam negeri sehingga mampu menghadirkan referensi yang semakin mencerminkan karakteristik pasar nasional.
Proses tersebut, lanjut Yazid, tidak dapat dilepaskan dari aktivitas perdagangan yang aktif. Semakin banyak transaksi yang dilakukan melalui mekanisme bursa dengan kontrak yang terstandarisasi dan pencatatan yang transparan, semakin representatif pula harga yang terbentuk sebagai cerminan kondisi pasar.
Olien Catatkan Transaksi Tinggi
Sebagai gambaran, perdagangan minyak sawit dalam beberapa pekan terakhir berlangsung secara dinamis. Pada pekan terakhir Juli 2026, harga acuan global Olein yang mengacu pada FPOL Bursa Malaysia Derivatives (BMD) meningkat 3,52 persen, dari USD1.135 per ton menjadi USD1.175 per ton dibandingkan pekan sebelumnya.
Kenaikan tersebut didorong oleh menguatnya harga minyak mentah Brent sebesar 4,23 persen, meningkatnya permintaan dari China, serta ekspektasi pasokan minyak sawit Indonesia yang lebih ketat.
Di tengah dinamika tersebut, aktivitas perdagangan Olein di JFX tetap menunjukkan likuiditas yang terjaga. Sepanjang periode 28 Juni hingga 25 Juli 2026, volume transaksi olein mencapai 67.564 lot dengan nilai transaksi sekitar Rp6,85 triliun. Menurut Yazid, aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan harga yang semakin aktif melalui mekanisme perdagangan yang transparan.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
