
Bangunan Koperasi Desa Merah Putih di Desa Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sedang dalam pembangunan. (Dok.Radar Kediri)
JawaPos.com - Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih semenjak diluncurkan masih menghadapi sekelumit masalah. Dari beragam persoalan itu setidaknya ada 5 persoalan besar.
Pertama, pemotongan dana desa secara besar-besaran yang mecapai (58,03%). Kedua, skema pembiayaan yang membebani APBN & Perbankan. Ketiga, karut-marut seleksi manajer. Keempat, masalah teknis di lapangan terkait penyediaanlahan dan pengelolaa asset. Kelima, yang lebih kruasial lagi Adalah kompetensi ‘instan” para pengawas yang berasal dari Bintara Pembina Desa (Babinsa) TNI.
Ketika pemerintah memutuskan untuk memotong dana desa maka terjadi protes dari dari perangkat desa. Banyak program prioritas desa, seperti pembangunan jalan, irigasi, dan infrastruktur lainnya, menjadi terhenti. Sebab, pemerintah memotong dana desa 58,03% yang direalokasi untuk pembangunan gedung koperasi.
Protes ini sangat lantang disampaikan oleh pemerintah desa di Tuban, Mojokerto, dan Pati. Kini para kepala desa di sana mengeluhkan kehilangan kendali atas anggaran desa karena pemotongan otomatis dari pusat.
Pemerintah berdalih ini adalah "realokasi", namun di lapangan dirasakan sebagai pemotongan yang menghambat otonomi desa.
Pembangunan Koperasi Merah Putih di setiap desa dan kelurahan menggunakan dana talangan dari bank-bank Himbara (BNI, BRI, Mandiri) melalui PT Agrinas. Sistem penggunaan dana talangan ini memicu kontroversi. Apalagi cicilan tersebut akan dibayar oleh Kementerian Keuangan, yang diprediksi bisa menembus angka Rp 240 triliun.
Dengan pemberian kredit dari Bank Himbara untuk mendukung pembangunan Koperasi Merah Putih ini, menurut para pengamat ekonomi bakal terjadi risiko meningkatnya Non-Performing Loan (NPL) atau kredit macet. Alasannya, model bisnis koperasi yang dianggap belum matang sepenuhnya.
Pada bulan Mei 2026, Pemerintah melakukan rektrutmen manajer koperasi . Sayangnya, proses rekrutmen manajer koperasi menjadi menghadapi kendala teknis. Yaitu, eror system. Peserta tes Computer Assisted Test (CAT) memprotes jawaban yang tiba-tiba berubah sendiri atau kursor yang bergerak acak saat disimpan. Hal ini memicu hilangnya kepercayaan publik terhadap transparansi seleksi.
Persoalan lainnnya, adanya dugaan orang dalam ‘ordal’. Para di tengah kalangan publik muncul isu adanya "titipan" atau jalur orang dalam dalam penentuan manajer, meskipun kementerian terkait telah membantahnya. Baik itu Kemenko Pangan maupun Kementerian Koperasi (Kemenkop).

Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Brasil vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Statistik Vikings Siap Hancurkan Samba
Prediksi Skor Meksiko vs Inggris di Piala Dunia 2026: Kelemahan 3 Singa di Estadio Azteca
Prediksi Skor Brasil vs Norwegia: Bursa Taruhan Dunia Jagokan Selecao, Opta Beri Peluang Menang 53,6 Persen
Prediksi Skor Inggris vs Meksiko: Bursa Taruhan Dunia Tetap Jagokan Three Lions, Rekor Angker Azteca Jadi Ancaman
Prediksi Skor Portugal vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Diunggulkan Kalahkan Cristiano Ronaldo Cs
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia di Piala Dunia 2026: Setan Merah Diunggulkan Bungkam Tuan Rumah
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Susunan Pemain Meksiko vs Inggris: Altitude Jadi Senjata El Tri, Saka dan Gordon Bantu Harry Kane
