alexametrics

Tiongkok Ditantang Tarik Investasi Batubara dari Indonesia

26 September 2021, 20:17:48 WIB

JawaPos.com – Associate Director Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia Tiza Mafira mengatakan, statement Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam Sidang Majelis Umum PBB untuk tidak lagi mendanai batu bara di luar negeri, seharusnya bisa jadi pendorong bagi Indonesia untuk segera menghentikan proyek yang sama.

Karena itu, lanjutnya, sudah saatnya pemerintah harus segera mengalihkan dukungannya untuk melakukan pengembangan energi baru terbarukan.

“Komitmen Jepang, Korea, dan baru-baru ini Tiongkok untuk tidak lagi mendanai batu bara di luar negeri seharusnya menjadi tendangan pamungkas berakhirnya era batu bara,” ujar Tiza dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (26/9).

Menurut Tiza, Indonesia masih berupaya mempertahankan industri batu bara, yang dibuktikan dengan pemberian subsidi listrik berbasis batu bara yang diberikan emerintah, insentif untuk batu bara di paket Pemulihan Ekonomi Nasional, insentif hilirisasi batu bara, perpanjangan izin pertambangan batu bara, dan upaya mendorong clean coal technology.

“Karena semua pengeluaran anggaran negara tersebut akan sia-sia apabila tidak ada lagi yang mau berinvestasi di industri tersebut,” ujar Tiza.

Sementara itu, Koordinator Indonesia Team Leader 350.org, Sisilia Nurmala Dewi menilai, menilai komitmen Xi Jinping terkait iklim baru adalah langkah besar perubahan kebijakan Tiongkok yang merupakan negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

Meski demikian, Sisilia menyebut, komitmen Xi Jining perlu diamati secara kritis untuk memastikan keefektifan janji tersebut bisa dilakukan terhadap proyek yang sedang dijalankan di luar Tiongkok, terutama di Indonesia. Pasalnya, investasi Tiongkok di Indonesia dalam industri batu bara telah berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca, polusi udara, dan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat setempat.

“Kami berharap pemerintah Indonesia melalui bank sentral dan bank-bank milik negara segera mengikuti dan membuat pengumuman serupa,” ujar Sisilia.

Diketahui, Tiongkok banyak terlibat dalam proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Indonesia. Sekitar 71 persen dari daftar pembangkit listrik energi kotor batu bara saat ini didukung oleh negara tirai bambu itu. Lebih dari 30 PLTU dengan total kapasitas lebih dari 10 GW baik dalam fase pendanaan, prakonstruksi atau baru saja masuk dalam tahapan awal pembangunan.

Sementara di sektor energi Indonesia, dalam kurun waktu 2000-2019, China telah menggelontorkan dana investasi sebesar 9,6 miliar USD. Sebanyak dolar AS 9,3 miliar hanya untuk pembangkit listrik energi batu bara. Peneliti Trend Asia, Andri Prasetiyo berpendapat komitmen iklim terbaru dari China adalah lonceng kematian bagi industri energi kotor batu bara.

“Bagaimanapun Tiongkok adalah pihak yang paling berpengaruh terhadap pembangunan PLTU batu bara di Indonesia. Jika negara terseur betul-betul serius atas komitmen penghentian pembangunan PLTU untuk mencegah laju krisis iklim, mereka harus segera memulai langkah nyata dengan menarik keterlibatan mereka di proyek-proyek pembangunan PLTU di Indonesia secara menyeluruh,” pungkasnya.

Editor : Dimas Ryandi

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads