JawaPos Radar | Iklan Jitu

Pasokan Jagung Tak Stabil, Peternak Ayam Keluhkan Kenaikan Harga Pakan

26 September 2018, 08:57:41 WIB | Editor: Mohamad Nur Asikin
Pasokan Jagung Tak Stabil, Peternak Ayam Keluhkan Kenaikan Harga Pakan
Ilustrasi peternak tengah mengambil telur produksi peternakannya (Dok.JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Kalangan peternak ayam mulai teriak menyusul terus melambungnya harga Jagung sebagai bahan pakan. Tingginya harga jagung pakan membuat peternak ayam dan industri pakan makin tercekik. Pasalnya harga jagung sudah mencapai Rp5.200 per kilogram. Padahal, rata-rata biasanya hanya di angka Rp4.000-an.

Kenaikan harga jagung menjadi salah satu indikator kurangnya suplai jagung secara nasional. Di sisi lain, pembatasan impor jagung terus dikumandangkan karena pasokan dalam negeri dianggap sudah memenuhi.

"Jumlah produksi jagung nasional tidak bisa memenuhi jumlah konsumsi jagung nasional. Di saat yang bersamaan, pemerintah justru membatasi impor jagung tanpa memperhatikan pasokan memadai," kata Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Imelda Freddy dalam keterangannnya di Jakarta, Selasa (25/9).

Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan pasokan jagung guna menjaga stabilitas kebutuhan untuk bahan pokok pakan ternak. Menurutnya, jumlah produksi jagung sendiri saat ini masih tidak stabil di sepanjang tahun.

Penyebabnya ada pergantian jenis komoditas pertanian yang dilakukan oleh pada petani. Jika hal tersebut tidak segera diatasi, dan terjadi alih bahan baku pakan ke gandum, maka akan menimbulkan dampak negatif terhadap petani jagung. Hasil produksi mereka tidak terserap oleh pasar.

"Lebih dari 45% pakan ayam berasal dari jagung sehingga kelangkaan jagung pasti akan memengaruhi produksi pakan nasional. Belum lagi jumlah produksi jagung harus berebut dengan permintaan konsumen yang ditujukan untuk non pakan ternak," ujarnya.

Terkait dengan target produksi jagung nasional sebesar 30 juta ton, Imelda menilai, hal tersebut tidak realistis. Menurutnya, proyeksi itu dihitung hanya berdasar potensi benih jagung yang dikalikan luas lahan dengan tidak mengikutsertakan variabel lainnya.

Contohnya tidak ada penghitungan soal produksi panen yang tercecer saat proses distribusi atau pengangkutan dan produksi panen yang tidak memenuhi standar atau busuk.

Idealnya, untuk menghitung target produksi perlu beberapa variabel yang harus diikutsertakan. Mulai dari jagung yang busuk, jagung yang tercecer saat distribusi, variabel eksternal seperti cuaca, sistem irigasi, sampai serangan hama.

"Selain itu, angka ini akan sulit dicapai karena mesin pengering masih jarang ditemui di desa-desa penghasil jagung. Dengan adanya mesin pengering, petani tidak perlu mengeringkan jagung di bawah terik matahari, mesin pengering juga akan sangat membantu petani saat musim hujan," jelas Imelda.

Data Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat jumlah produksi jagung nasional mengalami peningkatan pada periode 2013 sampai 2017. Pada 2013 jumlah produksi jagung nasional adalah 18,5 juta ton dan meningkat menjadi 19 juta ton dan 19,6 juta ton pada 2014 dan 2015. Pada 2016 dan 2017 jumlahnya menjadi 19,7 juta ton dan 20 juta ton.

Di saat yang bersamaan, jumlah konsumsi jagung nasional juga terus naik. Pada periode 2013-2015, jumlah konsumsi jagung nasional berturut-turut sebesar 21,6 juta ton; 22,5 juta ton; dan 23,3 juta ton. Ada sedikit penurunan pada 2016 yaitu menjadi 22,1 juta ton. Jumlah ini kembali naik menjadi 23,3 juta ton pada 2017.

(ask/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up