alexametrics

Jam Operasional Perdagangan Saham BEI dan Kliring BI Dipersingkat

26 Maret 2020, 09:11:23 WIB

JawaPos.com – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bank Indonesia (BI) mengubah jam operasional mulai 30 Maret mendatang. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi akibat pandemi virus korona (Covid-19).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta BEI untuk mempersingkat jam perdagangan. Begitu pula, di sistem penyelenggara pasar alternatif (SPPA) dan pelaporan di penerima laporan transaksi efek.

“Senin sampai Jumat, sesi 1 dari pukul 09.00 sampai 11.30. Kemudian sesi 2 mulai pukul 13.30 sampai 15.00,” ucap Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam keterangan tertulisnya.

Menurut dia, kebijakan tersebut menyesuaikan jadwal operasional dan layanan publik BI yang berubah. Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, penarikan kas dimulai pukul 06.30 hingga 11.00. Untuk transaksi nasabah dan penerimaan negara berlangsung pukul 06.30 sampai 15.00.

“Sedangkan transaksi pemerintah, antar bank, fasilitas likuiditas intrahari (FLI), surat berharga (SB), dan pasar modal yakni pukul 06.30-15.30,” ucap Perry.

Untuk moneter, transaksi operasi pasar terbuka (OPT) rupiah dan operasi moneter valas dibuka pukul 09.00 hingga 15.00. Dibuka lebih lambat satu jam dan berakhir lebih cepat satu jam.

Mengingat, beberapa waktu terakhir indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terus melemah. Sejak Senin (23/3), IHSG terpantau turun teratur hingga Selasa sore (24/3) finis di bawah 4.000. Tepatnya di level 3.937, 63.

Begitu pula, nilai tukar rupiah yang sudah tembus Rp 16 ribu dalam sepekan terakhir. Berdasarkan Bloomberg Markets spot rate, kini rupiah berada di level Rp 16.500 per USD. Catatan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, malah sedikit lebih baik. Yakni berada di posisi Rp 16.486.

Analis pasar modal Hans Kwee menilai, IHSG berpotensi kembali turun. Seiring meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19. Paling buruk merosot hingga level 3.686.

Hans menilai, banyak investor global menilai pemerintah Indonesia bertindak lambat menangani Covid-19. Kebijakan work from home tidak efektif. Malah semakin membuat ketidakpastian ekonomi di tanah air. Tak ayal, banyak investor global mencabut modal dan aset mereka.

”Kita melihat masyarakat bawah masih santai saja. Anggapan mereka tidak kerja, ya tidak makan. Dengan begitu, tidak dipungkuri jika penyebaran Covid-19 masih akan terus terjadi,” ucap Direktur Anugerah Mega Investama itu.

Melihat kondisi tersebut Hans cukup khawatir. Sudah saatnya pemerintah Indonesia harus bersikap tegas. Melakukan lockdown per wilayah. Mengorbankan aktivitas ekonomi tidak berjalan setidaknya selama dua minggu. Selama itu pula kebutuhan masyarakat sepenuhnya ditanggung. Dengan harapan, pemerintah lebih fokus memutus rantai penyebaran virus asal Wuhan tersebut.

”Memang keputusan yang berat. Pemerintah tidak hanya memikirkan kesehatan, juga ekonomi dan sosial. Tapi harus harus dikorbankan demi virusnya tertanggulangi. Jujur, saya mulai gerogi rupiah melemah mendekati Rp 17 ribu,” ujar Hans.

Di sisi lain, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuturkan, jika pemerintah memutuskan lockdown harus berdasarkan data outbreak dan tingkat kematian yang valid. Artinya, perlu memastikan bahwa tingkat kematian tinggi terhadap seluruh populasi warga DKI Jakarta.

“Karena kalau rasio kematian saat ini hanya mempertimbangkan pasien yang terpapar Covid, sepertinya kesimpulannya agak misleading. Dan pemerintah harus mendorong seluruh masyarakat melakukan tes Covid-19,” beber Josua kepada Jawa Pos kemarin.

Menurut dia, seandainya wabah Covid-19 semakin memburuk dan memaksamerintah melakukan lockdown menyeluruh, tentu akan berdampak signifikan terhadap perekonomian dalam jangka pendek. Khususnya pada kuartal I tahun 2020. Meski demikian, dengan lockdown penanganan Covid-19 lebih cepat. Sehingga dampak negatif terhadap perekonomian tidak berkepanjangan.

Ketersediaan logistik untuk masyarakat perlu dipastikan. Setidaknya sampai masa lockdown selesai. Keputusan pemerintah menonaktifkan kegiatan di seluruh sektor memang sulit. “Kalau outbreak di Indonesia cukup pesat dengan tingkat kematian yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara lain, menurut saya keputusan lockdown perlu diambil,” ucap pria yang juga menjabat Vice President Economist Bank Permata itu.

Namun, lanjut Josua, perlu pertimbangan lain untuk melakukan lockdown agar tidak memberikan kepanikan di masyarakat. Selain data rasio kematian dan suspek, juga perlu mempertimbangkan efek psikologis dari keputusan lockdown tersebut.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Agas Putra Hartanto, Romys Binekasri



Close Ads