
HSBC bekerja sama dengan Jawa Pos menggelar diskusi panel dengan tema Trump, Trade and the Future of Indonesia di Hotel Sheraton, Surabaya, Rabu (25/6/2025). (Foto: Alfian Rizal/Jawa Pos)
JawaPos.com - Untuk meng-upgrade literasi masyarakat tentang isu global, HSBC menyelenggarakan diskusi panel dengan tema Trump, Trade and the Future of Indonesia. Event yang digelar bank internasional skala global dan Jawa Pos itu berlangsung, Rabu (25/6) di hotel Sheraton, Surabaya.
President Director PT Bank HSBC Indonesia Francois de Maricourt, Former Minister & Entrepreneur Sandiaga Salahuddin Uno, dan Senior Economist Dr Aviliani SE MS, hadir sebagai pembicara dalam acara bertajuk HSBC Business Update 2025 itu.
"Market global tengah diguncang. Banyak hal yang membuat ekonomi tak stabil termasuk konflik negara dan kebijakan-kebijakan. Meski begitu, selalu ada peluang. Terlebih bagi Indonesia dengan banyak potensi. Untuk itu, kami melangsungkan diskusi ini sebagai upaya mitigasi agar Indonesia mampu menyiapkan langkah terbaik. Semua kondisi harus dihadapi. Salah satunya, mengumpulkan berbagai stakeholder untuk bisa melancarkan langkah terbaik," ujar Francois.
Tak hanya tugas pemerintah, memajukan ekonomi negeri membutuhkan peran banyak pihak. HSBC ingin menjadi pihak yang berperan dalam usaha tersebut. "Pengetahuan dari acara ini diharapkan mampu memberikan insight positif untuk semua pihak," tutur Francois.
Optimisme itu juga ditangkap oleh Sandiaga Uno. Menurutnya, Indonesia mampu bertahan dan bersaing. Terlebih, Indonesia punya stabilitas politik dan konsolidasi yang terjalin baik. Selain itu, keadaan ekonomi cukup stabil karena daya beli yang cenderung tidak menurun.
Untuk terus mempertahankan bahkan meningkatkan ekonomi, pemerintah pusat dan daerah harus berperan aktif sebagai fasilitator. Pemerintah juga harus mampu menghadirkan regulasi yang mendorong adaptasi dan inovasi para pelaku bisnis. "Jangan hanya berkeluh kesah, semua pihak harus proaktif. Termasuk HSBC yang tidak hanya memberikan kredit tapi juga solusi navigasi," ungkap Sandiaga.
HSBC bekerja sama dengan Jawa Pos menggelar diskusi panel dengan tema Trump, Trade and the Future of Indonesia di Hotel Sheraton, Surabaya, Rabu (25/6/2025). (Foto: Alfian Rizal/Jawa Pos)
Upaya lain, Indonesia harus mampu membangun rantai pasok strategis dengan mengandalkan sumber ekonomi lokal. Indonesia juga punya ekonomi kreatif yang kini menempati peringkat ke-3 dunia setelah Amerika dan Korea Selatan. "Di tengah tantangan ini, kontribusi ekonomi kreatif di Indonesia lebih dari 8 persen, Amerika 12 persen, dan Korea Selatan mendekati 10 persen," tutur Sandiaga.
Kepada hadirin, Sandiaga berpesan untuk melihat kondisi ekonomi global sebagai peluang. Layaknya Tiongkok yang menjadikan kesempatan itu untuk mempercepat ekonomi digital. Hidup di era disrupsi bukan hanya perihal adu cepat dan kompetisi, namun juga kemampuan adaptif dan kolaboratif yang bakal membuat sebuah negara unggul.
"Kita mampu berkembang lebih baik. Dorongannya adalah dengan link innovation yakni cepat uji coba dan cepat adaptasi," pungkas Sandiaga.
Dilanjutkan oleh Aviliani, masyarakat Indonesia dibagi menjadi 4 golongan. Yakni, atas, menengah atas, menengah bawah, dan miskin. Golongan menengah bawah hampir 75 juta orang. Mereka berada di sektor informal dengan pendapatan pas-pasan. Hal itu jadi tugas pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan pendapatan mereka demi kenaikan PDRB.
"Untuk mampu meningkatkan ekonomi, sentuhan terhadap golongan menengah ke bawah harus diperhatikan. Peningkatan pendapatan dengan penciptaan lapangan pekerjaan jadi kunci utama," ujar Aviliani.
Punya Potensi Besar, Jatim Terus Perkuat Pasar
Dalam event HSBC Business Update 2025, Director of Pascasarjana Unair Prof Badri Munir Sukoco SE MBA PhD, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jatim Dr Iwan SHut MM, Chairman of Apindo Jatim Drs Eddy Widjanarko MMT, COO SPS Corporate William Yaury, dan Business Development Director PT Tudung Putra Jaya Rudi Eko Hartono didapuk sebagai panelis.
"Adanya perang tarif membuat customer dari Amerika mencari alternatif selain bergantung supply dari Tiongkok. Itu jadi kesempatan negara di luar Tiongkok khususnya Indonesia untuk makin melebarkan pasar," ungkap William Yaury.
Dia mengakui bahwa perusahaannya yang mengandalkan 70 persen ekspor, cukup merasakan dampaknya. Namun, diakuinya pihaknya masih bisa melakukan pemasaran seperti biasa.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
