alexametrics

Surplus Beras 2,85 Juta Ton Tak Bikin RI Lepas dari Impor

Ini Penyebabnya
25 Oktober 2018, 21:03:31 WIB

JawaPos.com – Melalui data paling mutakhir, pemerintah melalui Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data produksi beras hingga akhir tahun surplus 2,85 juta ton. Namun, bukan berarti pasokan beras dalam negeri menjadi aman lantaran adanya surplus 2,85 juta ton beras. Hal itupun diakui oleh Kepala BPS Kecuk Suhariyanto.

“Jangan sampai kita berpendapat dengan surplus 2,85 juta ton itu jadi aman lho,” kata Kecuk dalam konferesni pers di Jakarta, Rabu (24/10).

Angka surplus ini didapat dari perkiraan total produksi Gabah Kering Giling (GKG) 2018 sebesar 56,54 Juta Ton atau setara dengan 32,42 Juta Ton beras. Lalu dikurangi konsumsi beras baik secara langsung di tingkat rumah tangga maupun konsumsi tidak langsung pada 2017 mencapai 29,57 juta ton per tahun.

Setidaknya ada dua hal yang membuat masyarakat tak berharap banyak bahwa surplus produksi beras bisa menjamin pasokan. Pertama, jumlah kebutuhan rumah tangga konsumen, rumah tangga produsen, pedagang, penggilingan, industri hotel, restoran dan kafe (horeka), serta ke Perum Bulog.

Dia menjelaskan, 44 persen dari surplus beras 2,85 juta ton dikonsumsi 14,1 juta rumah tangga produsen. Jumlah itu setara 1,35 juta ton beras. Artinya, rata-rata setiap satu rumah tangga produsen hanya mendapat surplus 7,5 kilogram beras per bulan. Belum lagi, kondisi pada bulan-bulan tertentu yang memengaruhi musim panen.

Kedua, data surplus beras sebanyak 2,85 juta ton bukanlah posisi stok melainkan tersebar di beberapa daerah. Selanjutnya, BPS mendata ada tiga provinsi dengan produksi padi (GKG) tertinggi yakni di Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing sebesar 10,54 juta ton, 9,54 juta ton, dan 9,51 juta ton.

Sehingga, kata Kecuk, pemerintah masih harus mengantisipasi defisit beras. Terutama pada bulan-bulan tertentu saat belum memasuki musim panen. Sementara itu, Head of Research Center of Indonesian Policy Studies (CIPS) mengatakan salah satu tolok ukur perlu atau tidaknya impor beras adalah harga di tingkat konsumen.

“Indikator yang paling reliable itu harga. Nyatanya, harga beras kita itu lebih mahal daripada Thailand dan Vietnam,” kata dia saat dihubungi Jawapos.com.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : (uji/JPC)

Copy Editor :

Surplus Beras 2,85 Juta Ton Tak Bikin RI Lepas dari Impor