alexametrics

Biar Tetap Eksis, Kemenpar Dorong BPW Konvensional Bergerak ke Digital

25 September 2019, 20:50:36 WIB

JawaPos.com – Kementerian Parwisata (Kemenpar) menyampaikan, digitalisasi sektor pariwisata merupakan hal yang penting guna menghadapi tantangan perkembangan zaman yang berubah cepat. Apalagi, mayoritas masyarakat Indonesia telah menggunakan teknologi sebagai kegiatan sehari-hari.

Data Kemenpar menunjukkan, 70 persen dari masyarakat Indonesia telah menggunakan teknologi digital dalam aktivitas harian. Misalnya, dari berbelanja, memesan makanan, bepergian, hingga melakukan pembayaran untuk berbagai macam kebutuhan.

Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Teknologi Informasi, Samsriyono menyatakan, hal ini juga berdampak terhadap sektor pariwisata. Dia bilang, mulai ada peralihan bisnis biro perjalanan wisata (BPW) atau travel agent ke arah digitalisasi. Misalnya saja dengan pemanfaatan aplikasi.

“Milenial sudah terbiasa dengan gadget dan sebagainya. Sekarang dengan Google dan aplikasi, orang datang sendiri bebas,” kata Samsriyono dalam sebuah diskusi digelar Jawa Pos, di Hotel Century Park, Jakarta, Rabu (25/9).

Dia mengatakan, BPW konvensional harus siap untuk menghadapi era digital tersebut. Sebab jika tidak, bukan tidak mungkin banyak pelaku usaha yang akan gulung tikar karena kalah bersaing.

Contoh sederhana, kata dia, baru dialami oleh salah satu BPW internasional, Thomas Cook. BPW ini bangkrut padahal telah berkiprah di industri itu hampir 178 tahun.

“Thomas Cook itu tidak mampu men-transform karena mereka masih di bisnis di 1.0. Sementara Booking.com dan perusahaan lain-lain sudah di 4.0,” terangnya.

Oleh sebab itu, kata dia, ke depannya para pelaku industri harus bisa menghadapi persaingan di era digital yang tidak terbendung. Apalagi ia mencatat pada 2030, populasi dunia akan dikuasai oleh milenial yang notabene sangat melek dengan teknologi.

“Kalau kita failed (gagal) dalam customer centric dan menciptakan user experience yang bagus, pasti akan jatuh. Kalau kita tidak transform ke arah digital, kita akan terlindas, karena customer kita sudah berubah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, nilai perusahaan travel agent yang menggunakan teknologi digital tumbuh lebih pesat dibandingkan BPW konvensional. Traveloka misalnya, ia telah membukukan nilai sebesar Rp 14 triliun.

“Traveloka yang baru lima tahun berdiri sudah 10 kali lipat dari dua perusahaan dijumlahkan value-nya, ini ‘the power of digital’” pungkasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Igman Ibrahim



Close Ads