alexametrics

Tiket Pesawat Jadi Momok Pergerakan Inflasi di Awal Tahun

24 Januari 2019, 17:27:18 WIB

JawaPos.com – Mahalnya harga tiket pesawat diprediksi memberi pengaruh terbesar inflasi di Balikpapan tahun ini. Terutama pada semester pertama, di mana banyak momentum yang berpeluang mengerek harga tiket.

“Hingga Juni mendatang, ada berbagai momentum yang mampu mengerek permintaan tiket pesawat ke sejumlah tujuan. Itu artinya, harga tiket pesawat yang mahal berpeluang terjadi dalam waktu lama,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan Nur Wahid seperti dikutip Kaltim Post (Jawa Pos Group), Kamis (24/1).

Misalnya pada Februari terdapat momentum Tahun Baru Imlek. Kemudian masa kampanye pada periode Maret yang diyakini turut mendorong permintaan hingga April. Mei mendatang bertepatan dengan masuknya bulan suci Ramadan dilanjutkan mudik Lebaran periode Juni. Artinya, besar kemungkinan laju inflasi kali ini cukup tinggi dari tahun lalu.

“Semua itu momen di mana ada peningkatan permintaan. Kalau banyak permintaan maka hukum pasar berlaku,” tuturnya.

Kondisi tersebut tentu mengancam tingkat inflasi kota. Apalagi Balikpapan didominasi pendatang. Sehingga alokasi biaya transportasi akan lebih besar. Tak heran saat penurunan harga terjadi, andilnya terhadap deflasi kota juga cukup besar.

Kali ini, tren kenaikan harga tiket pesawat merupakan komoditas langganan penyumbang inflasi. Seperti tahun lalu, setelah Lebaran, penurunan harga tiket juga terjadi cukup lama. Bahkan, tiga bulan berturut-turut, andil tiket pesawat ini mendorong terjadinya inflasi.

“Andil komoditas tiket pesawat terhadap inflasi kota mulai terekam sejak Juni atau bertepatan dengan mudik Lebaran. Kala itu tiket angkutan udara mengalami kenaikan indeks harga sebesar 15,0803 persen dan memberikan andil sebesar 0,5017 persen. Tingkat inflasi Juni, yakni 1,30 persen. Juli, komoditas tiket pesawat kembali memberi andil terbesar terhadap inflasi,” jelasnya.

Penurunan harga tiket pesawat yang terjadi sepanjang September lantas memberi dampak positif dan membentuk terjadinya deflasi. Pada periode itu, komoditas angkutan udara mengalami penurunan indeks harga terbesar, yakni 7,46 persen dan memberikan andil terhadap inflasi sebesar minus 0,3111 persen. Deflasi September pun sebesar 0,60 Persen.

Saat terjadi deflasi periode Oktober sebesar 0,68 persen. Lagi-lagi berkat tekanan harga tiket pesawat. Kala itu, tarif tiket pesawat yang merupakan komoditas kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan memberikan andil terbesar terjadinya deflasi sebesar 0,9016 persen.

Tekanan lagi-lagi diberikan harga tiket pesawat saat tingkat inflasi Kota Balikpapan periode November sebesar 0,01 persen. Bahkan andilnya menjadi yang terbesar, yakni 0,5161 persen setelah mengalami inflasi secara kelompok sebesar 2,72 persen.

Desember 2018 lalu, komoditas tersebut kembali memacu tingkat inflasi kota. Andilnya 0,7428 persen setelah mengalami kenaikan indeks harga sebesar 21,6774 persen. Adapun inflasi Desember 2018 sebesar 0,86 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 0,01 persen.

Sebagai upaya pengendalian inflasi daerah, Tim Pengendalian Inflasi daerah (TPID) Kota Balikpapan telah mengambil beberapa langkah pengendalian harga.

Kepala Kantor Perwakilan BI Balikpapan Suharman Tabrani mengatakan, beberapa upaya yang dilakukan TPID di tahun ini, yaitu melakukan pemantauan komoditas secara berkala.

Juga menggelar high level meeting TPID Kalimantan Timur yang berfokus pada pengendalian harga angkutan udara menjelang hari besar keagamaan nasional, stabilisasi harga melalui Bulog untuk komoditas pangan strategis terutama beras, aktivasi kios penyeimbang untuk memastikan ketersediaan pasokan pada harga yang terkendali, sidak pasar dengan satgas pangan untuk memastikan ketersediaan dan kelancaran pasokan.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : JPG

Tiket Pesawat Jadi Momok Pergerakan Inflasi di Awal Tahun