alexametrics

Minta Pemerintah Kaji Ulang, INDEF: Ini Kan Bukan Memindahkan Pabrik

23 Agustus 2019, 21:30:55 WIB

JawaPos.com – Rencana pemerintah memindahkan ibu kota dari DKI Jakarta ke Kalimantan menuai pro-kontra. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai, pemindahan ibu kota tidak akan berdampak signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi dan menekan ketimpangan antarwilayah.

Pernyataan itu dipaparkan setelah INDEF melakukan riset tentang dampak pemindahan ibu kota terhadap perekonomian secara keseluruhan. Variabel ekonomi yang mereka ukur salah satunya ialah perubahan distribusi produk domestik bruto (PDB) pasca pemindahan ibu kota tersebut.

Hasilnya, peneliti Indef Rizal Taufikurohman mengatakan, pemindahan ibu kota ke Kalimantan hanya menguntungkan Kalimantan saja. Tidak ada dampak signifikan terhadap PDB nasional maupun penurunan ketimpangan antarwilayah.

“Pemindahan ibu kota tidak memberi dampak apa-apa bagi nasional dari pertumbuhan GDP (PDB) riil. Hanya berdampak positif di PDRB riil di regional yang menjadi ibu kota baru,” kata Rizal dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (23/8).

Dampak positif terhadap PDRB pun kecil. Di samping itu, pemerataan yang didengungkan dengan adanya pemindahan ibu kota ini tidak akan mudah tercapai.

“Pemerataan tidak akan tercapai segampang itu. Bicara distribusi kue di regional nggak semudah itu. Ini kan bukan memindahkan pabrik. Tapi, lebih banyak memindahkan aktivitas pemerintahan,” terangnya.

Rizal pun menyarankan pemerintah untuk terlebih dahulu menyelesaikan masalah perekonomian nasional di tengah tantangan global yang semakin berat. Misalnya soal deindustrialisasi, minimnya lapangan kerja, rendahnya kualitas SDM, kinerja ekspor, iklim investasi, serta ketahanan pangan.

Bagi Rizal, pemindahan ibu kota bisa dilakukan saat kondisi perekonomian telah mampu mandiri dan stabil. “Pemerintah sebaiknya fokus menyelesaikan masalah ekonomi nasional yang saat ini sedang tidak menguntungkan dan penuh tantangan berat,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Ekonom Senior INDEF, Fadil Hasan pesimistis dengan visi Presiden Joko Widodo yang akan mengubah paradigma Jawa-sentris menjadi Indonesia-sentris. Fadil melihat, pemindahan ibu kota negara malah akan menciptakan Kalimantan-sentris.

“Pemindahan ibu kota untuk menjadikan Indonesia-sentris terlalu dibuat-buat. Kalau argumennya pemerataan ekonomi harusnya daerah tertinggal yang menjadi ibu kota. Entah di Papua atau daerah tertinggal lain. Ekonomi Kalimantan itu sudah relatif lebih maju ketimbang Papua,” pungkasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Igman Ibrahim



Close Ads