alexametrics

Luhut Pamerkan Investasi Baterai Litium Di World Economic Forum 2019

23 Januari 2019, 12:40:11 WIB

JawaPos.com – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan menunjukkan potensi industri lithium yang dimiliki Indonesia kepada para calon investor di World Economic Forum 2019 yang digelar di Davos, Swiss hingga 25 Januari mendatang. 

Menurutnya, Indonesia negara yang pertumbuhan ekonominya digerakkan oleh peningkatan angka saham, tenaga kerja, dan inovasi, akan mendapatkan puncak bonus demografi pada tahun 2030. 

“Hal ini juga akan memicu investasi yang lebih besar baik dari domestik maupun asing,” ujarnya dalam siaran persnya, Rabu (23/1).

Diperkirakan pertumbuhan terjadi sekitar 1 hingga 2 persen per tahun untuk tahun 2018 hingga 2030. Pertumbuhan ini akan didorong oleh kegiatan ekspor dan investasi. 

“Pertumbuhan 30 juta orang tenaga kerja pada tahun 2030, dan 50 persen dari angka tersebut akan diserap oleh industri manufaktur. Industri manufaktur akan berkontribusi  lebih dari 25 persen dari angka GDP pada tahun 2030,” jelasnya.

Dalam masa dinamis industri manufaktur, Luhut menambahkan, Indonesia memutuskan memajukan industri baterai lithium. Lithium, memiliki kepadatan energi yang paling tinggi jika dibandingkan dengan jenis baterai lain. Contohnya, NiCd, NiMH.

Hampir 60 hingga 80 persen bahan baterai Lihtium terdiri dari Nikel. Teknologi Nikel adalah pengganti dari penggunaan teknologi komposisi Nikel, Kobalt, dan Mangan. Ini terjadi karena terbatasnya suplai Kobalt, sementara harga Kobalt semakin hari semakin tinggi. 

“Belum banyak terpublikasikan bahwa Indonesia memiliki 16 persen dari sumber daya alam nikel laterit global. Nikel Laterit adalah unsur yang membentuk 73 persen sumber nikel murni, yang akan menjadi sumber utama pertambangan nikel,” imbuhnya.

Luhut menyebut, Investasi Baterai Litium telah dilakukan di Morowali, Indonesia. Investasi tersebut meliputi pengembangan Nikel Smelting, dengan kapasitas produksi yang mencapai 50000 ton/ per tahun, termasuk kapasitas produksi Nikel Hidroksida dan Kobalt Smelting dengan kapasitas yang mencapai 4000 per tahun. 

“Morowali Industrial Park adalah satu contoh yang baik untuk kawasan industri di Indonesia yang komprehensif, kawasan yang perlu diantisipasi sebagai penantang utama di sektor industri Indonesia dalam waktu dekat,” tandasnya.

Editor : Teguh Jiwa Brata

Reporter : Romys Binekasri

Luhut Pamerkan Investasi Baterai Litium Di World Economic Forum 2019