JawaPos Radar | Iklan Jitu

Ini Alasan Rokok Harus Kena Cukai

22 September 2018, 14:03:38 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Ini Alasan Rokok Harus Kena Cukai
Ilustrasi industri rokok (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Mungkin bagi sebagian orang banyak yang sudah mengetahui mengapa rokok dikenakan cukai atau pajak. Namun, masih banyak juga yang belum mengetahui alasan hasil produksi tembakau itu dikenakan cukai. Melalui tulisan ini Pengamat Kebijakan Fiskal Yustinus Prastowo dan JawaPos.com coba mengulasnya.

Cukai rokok itu diatur di dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 146 Tahun 2017 Tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. Aturan ini diterapkan agar pabrikan rokok membayar tarif cukai lebih rendah dari ketentuan golongannya. Dengan begitu, kepatuhan industri rokok akan membaik dan kebocoran pada keuangan negara berkurang.

Di sisi lain, rokok juga dianggap sebagai perusak kesehatan. Bukan kebohongan jika asap yang dihasilkannya memberi dampak buruk bagi orang-orang di sekitarnya.

"Sudah menjadi kesepakatan umum bahwa merokok dapat merugikan kesehatan. Di mana-mana dilakukan pembatasan dan pengendalian, mulai dari tempat merokok, iklan promosi, peringatan bahaya di bungkus, hingga pengenaan cukai atas rokok," kata Yustinus, Sabtu (23/9). 

"Cukai dikenakan karena rokok dikategorikan barang yang konsumsinya harus dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, dan pemakaiannya menimbulkan dampak negatif.  Dengan kata lain merokok berarti menciptakan risiko kesehatan bagi diri sendiri, juga orang lain sebagai perokok pasif," tambahnya.

Lanjut Yustinus, dirinya memberikan sedikit ilustrasi bahwa cukai rokok yang dikenakan pemerintah merupakan bentuk "hukuman" kepada para perokok. Dalam sebatang rokok, ada 71 persen hak pemerintah yang terdiri dari cukai, PPh dan pajak rokok. Sementara sisahnya merupakan hak bagi industri. 

"Pemerintah sudah mengatur alokasi penggunaan pendapatan dari rokok ini, terakhir dipakai untuk menambal defisit BPJS. Jika pungutan cukai ditujukan untuk mengurangi eksternalitas negatif, bukankah dengan kata lain pungutan ini digunakan untuk kampanye dan edukasi tentang bahaya merokok, dan membiayai pengobatan warga yang terpapar penyakit akibat rokok?," tuturnya.

Perihal pembenaran yang kerap dilontarkan para perokok, dirinya enggan menilai berlebihan. Namun yang terpenting, pemerintah harus terus mengkampanyekan tidak merokok demi kesehatan bersama. Di sisi lain, ketegasan dalam menerapkan kebijakan untuk mengurangi jumlah perokok juga harus dilakukan.

"Jangan ditanya komentar para perokok. Mereka dapat memberi aneka penjelasan kenapa merokok dan dapat menikmatinya. Ada yang alasannya praktis hingga ideologis. Misalnya menjadi “teman” menyendiri, memberi sensasi psikis tertentu, membantu mengoptimalkan daya kreatif melalui imajinasi, hingga alasan keberpihakan pada petani tembakau dan melanggengkan warisan leluhur. Semua alasan itu sah dan tak perlu diperdebatkan," tandasnya.

(hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up