alexametrics

Kementerian Pertanian Pastikan Program Tanam Bawang Putih tetap Jalan

22 Januari 2020, 18:37:53 WIB

JawaPos.com – Kebijakan wajib tanam dan produksi bawang putih oleh importir kembali dipertanyakan. Sejumlah pengurus Pusbarindo melakukan audiensi dengan Ditjen Hortikultura, Selasa (21/1) lalu. Beberapa pandangan yang mencuat terkait dengan terbitnya Permentan No. 39 dan 46 Tahun 2019 tentang RIPH dan Pengembangan Komoditas Strategis.

Pada saat audiensi berlangsung, Pusbarindo menilai aturan realisasi tanam bawang putih oleh importir sebagai salah satu syarat pengajuan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura atau RIPH sudah tepat untuk memfilter tingkat kepatuhan dan keseriusan atau komitmen pelaku usaha dalam melaksanakan wajib tanam.

Ketua II, Valentino menyebutkan bahwa Pusbarindo pada prinsipnya mendukung semua kebijakan Pemerintah termasuk adanya wajib tanam bagi pelaku usaha bawang putih. “Itu (kebijakan-red) sudah tepat untuk memfilter mana perusahaan yang komit dan patuh, dan mana yang ikut-ikutan saja” ungkapnya.

Namun, ia menyesalkan terbitnya Permentan 39 tahun 2019, bisa menghambat program yang telah dijalankan pemerintah. Kecemasan Pusbarindo karena seluruh anggotanya sudah komit dan patuh terhadap aturan, dan sudah berinvestasi tanam cukup besar. “Mohon ini dapat ditanggapi serius oleh pemerintah” pinta valentino.

Menanggapi berbagai aspirasi yang mengemuka pada rapat dengar pendapat tersebut, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, kembali menegaskan program wajib tanam dan produksi bawang putih oleh pelaku usaha tetap ada sampai saat ini dan masih terakomodir pada Permentan yang baru yaitu Nomor 39 tahun 2019 tentang RIPH dan Permentan 46 tahun 2019 tentang Pengembangan Komoditas Strategis Hortikultura.

“Khusus untuk bawang putih tetap ada kewajiban 5 persen produksi. Hal itu tidak hilang. Hanya saja, pelaku usaha diberikan haknya dulu berupa RIPH, baru kita tagih kewajibannya” papar anton, panggilan akrab pria asal Pamekasan ini. Selain itu Pemerintah akan kembali mengevaluasi realisasi tanam oleh importir dalam waktu dekat ini.

“Jadi kami tetap akan mengevaluasi pelaksanaan wajib tanam dan produksi perusahaan-perusahaan yang sudah dapat RIPH tahun 2019 lalu. Jika sudah melewati batas waktu, maka akan kami berikan sanksi sesuai aturan” tegasnya.

Menanggapi masih banyaknya asosiasi atau perkumpulan yang mengatasnamakan bawang putih. Anton menghimbau agar semua stakeholders bawang putih dapat bergabung dalam satu wadah asosiasi, sehingga aspirasi menjadi satu suara untuk kebaikan bersama dan untuk kepentingan nasional.
“Adanya kewajiban tanam dan produksi bawang putih jangan dianggap berat, karena saat ini sudah lebih dari 50 persen perusahaan bisa memenuhi kewajibannya. Ini investasi jangka panjang. Pengusaha diminta untuk bersatu dan saling konsolidasi di internal terutama terkait dengan volume pengajuam impornya” tambahnya.

Seperti diketahui, kebutuhan nasional bawang putih setiap tahunnya sekitar 500-550 ribu ton sedangkan pengajuan RIPH bisa mencapai 1 juta ton setiap tahunnya. “Ini tantangan bagi asosiasi, bisa tidak mengajukan rekomendasi impor sesuai dengan kebutuhan nasional kita” tantang Anton.

Terkait dengan adanya keluhan dan kesulitan yang dilontarkan oleh Pusbarindo dalam menyediakan sertifikat GAP dengan kapasitas produksi, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik, menegaskan kembali urgensi dari GAP untuk menjamin produk yang masuk dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia adalah yang bermutu dan juga aman.

“Sejak dikeluarkannya Permentan 16 tahun 2017, kita sudah mensyaratkan sertifikat GAP dengan Kapasitas Produksi yang sesuai dengan pengajuan impornya. Hal ini penting untuk dapat diketahui dan mudah ditelusur balik apakah produk yang diimpor berasal dari kebun-kebun yang teregistrasi” tegasnya.

Indonesia memiliki defisit perdagangan yang sangat besar dengan China sehingga bapak Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, bertekad untuk mendorong ekspor tiga kali lipat dengan melibatkan semua pelaku usaha. “Jadi selain mengimpor, kita menghimbau agar para importir
bisa sekaligus memanfaatkan peluang ekspor dengan negara mitra. Pak Menteri ingin menggugah rasa nasionalisme kita semua dengan bersama-sama mendorong ekspor nasional” tutup Yasid.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Saifan Zaking


Close Ads