JawaPos Radar | Iklan Jitu

Bermodal Rp 10 Juta, Bisnis Kuliner 2 Pemuda Ini Jadi Inspirasi

21 November 2018, 11:14:47 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Bermodal Rp 10 Juta, Bisnis Kuliner 2 Pemuda Ini Jadi Inspirasi
Pandu memulainya dengan lima menu andalan yakni Choux burger, Churos, srabi, Kue cubit, dan sosis.  (Dok. Kedai Tilil.)
Share this

JawaPos.com - Hanya bermodal kurang dari Rp 15 juta, peluang bisnis kuliner masih bisa menjanjikan. Dengan ketekunan dan keuletan, dua pemuda asal Jakarta dan Solo ini bisa meraup pendapatan berkali lipat per bulan. Bisnis seperti apa?

Pertama, adalah bisnis kuliner pinggir jalan ala Kedai Tilil yang dirintis oleh Pandu Putranegara. Kedai yang berada di Jalan Raya Pondok Gede Kelurahan Dukuh Kramat Jati itu selalu ramai dihampiri muda mudi tiap harinya.

Menu yang disajikan pun cukup ringan. Pandu memulainya dengan lima menu andalan yakni Choux burger, Churos, srabi, Kue cubit, dan sosis. Tak seperti tempat nongkrong pada umumnya yang hanya ramai saat "awal-awal buka" saja, Kedai Tilil mampu konsisten meski sudah memasuki tahun keempat.

Bermodal Rp 10 Juta, Bisnis Kuliner 2 Pemuda Ini Jadi Inspirasi
Thai Tea tiga rasa. (Dok. Som Tea.)

Pemuda lulusan Universitas swasta di Jakarta ini menuturkan awalnya ia dan teman-teman sepermainannya membangun usaha kuliner dengan modal Rp 11 juta saja. Saat itu tim yang membantu berjumlah 9 orang. Hanya dengan waktu lima bulan, modal itu sudah kembali. Saat ini pendapatan yang diraup bisa mencapai Rp 50 juta per bulan.

"Sekarang pendapatan sudah Rp 50 juta per bulan dengan laba Rp 26 juta," kata dia saat berbincang dengan Jawapos.com.

Awalnya, ia mengaku membuat kedai untuk wadah silaturahmi antar kerabat dan sahabat. Dia ingin stigma 'nongkrong' tak selalu di tempat kopi saja tapi bagaimana menikmati cemilan di pinggir jalan tetapi menunya juga pas di kantong dan di lidah.

Harga yang ditawarkan pun ramah di kantong. Khususnya pelajar dan mahasiswa mulai dari Rp 6.000 hingga Rp 20.000 per menu. Kendati begitu, tak jarang ibu-ibu dan bapak-bapak mendatangi kedai ini lho. Untuk bisa bertahan, Pandu dan tim terus melakukan inovasi. Mulai dari menu hingga pengembangan bisnis. 

Misalnya, menerima orderan cupcake dan kue ulang tahun hand made. Design dan model kuenya bisa sesuai permintaan konsumen. Ia pun selalu melakukan treat kepada karyawan dengan melakukan piknik serta kegiatan bersama. Kebetulan, karyawan yang bekerja di kedainya juga masih berusia muda.

"Yang saya lakuin dari awal adalah nabung dan transparasi keuangan. Pokoknya sambil jalan kita juga tetap lakuin kegiatan yang bermanfaat sebagai intermezzo dari rutinitas," jelasnya.

Kedua, datang dari Solo. Berbeda dengan Pandu yang memiliki model bisnis kedai yang menjual aneka makanan. Ditangan pemuda lulusan Universitas Negeri Surakarta ini minuman Thai Tea dengan cita rasa lokal bisa dibuat hype.

Aryo Prakosa memulai bisnis minuman Thai Tea tiga rasa dengan modal hanya Rp 8 juta saja. Dia pun membuka usaha Thai Tea dengan brand "somteadrink" hanya dengan gerobak. Saat ini pendapatan yang diraupnya sudah mencapai Rp 400.000 per harinya. 

Awalnya, ia mengaku bisnis ini hanya dijadikan sampingan atau side project saja. Sebelumnya, ia bersama dua temannya telah merintis usaha clothing line dan fotografi dengan brand attitude project dan mejiku photo.

Untuk bisnis clothing line, ia memanfaatkan lokasi workshop yang berdekatan dengan kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta. Namun, dengan memanfaatkan sosial media, orderan yang datang juga tak hanya datang dari luar kampus melainkan juga institusi. 

Kembali ke bisnis minuman, Aryo memilih untuk menjual somteadrink dengan harga Rp 7.000 saja. Sangat jauh dibawah harga rata-rata Thai Tea yang ngehits di Jakarta. 

"Untungnya kurang lebih 30-40 persen dari pendapatan," kata dia kepada Jawapos.com beberapa waktu lalu.

Dengan menawarkan minuman dengan 8 rasa, saat ini ia mengaku akan membuka dua outlet. Kendati memulainya dengan modal terbatas, namun konsep dan ide bisnis yang dilakukan dua pemuda ini patut diacungi jempol. 

Ketika banyak anak muda berlomba-lomba mencari kerja setelah lulus dari bangku kuliah, mereka memilih untuk keluar dari zona nyaman dan menciptakan lapangan kerja. Tentunya, dibutuhkan ketekunan dan kesabaran dalam merintis usaha. Jatuh bangun atau gagal bagi mereka pastinya adalah hal biasa. Semoga menginsiprasi.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up