JawaPos Radar

Pakan Ternak Langka, Ini Gerak Pemerintah Atasi Kenaikan Harga Telur

21/07/2018, 07:43 WIB | Editor: Mochamad Nur
Pakan Ternak Langka, Ini Gerak Pemerintah Atasi Kenaikan Harga Telur
Ilustrasi pedagang menjual telur di Pasar Kebayoran Lama Jakarta Selatan (DOK.DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)
Share this image

JawaPos.com- Lonjakan harga telur maupun daging ayam ras semenjak bulan Ramadan membuat susah kalangan rumah tangga karena pengeluaran bertambah. Naiknya sejumlah kebutuhan rumah tangga disinyalir karena adanya kelangkaan pakan ternak dalam proses produksinya.

Swasembada bahan pakan tak tercapai, menyebabkan biaya produksi menjadi kian tinggi. Kementerian Pertanian (Kementan) diminta fokus memenuhi kebutuhan pakan yang terjangkau. Program upaya khusus (upsus) padi, jagung dan kedelai (upsus pajale) besutan Kementerian Pertanian dinilai tak bisa sepenuhnya berkontribusi pada industri pakan.

“Problemnya bukan hanya masalah produksi, namun juga kontinuitas. Jangan dilihat ketika panen jagung, terus kita swasembada. Jagung masih diragukan bisa memasok kebutuhan industri pakan,” urai Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika mengenai naiknya harga pakan yang menyebabkan lonjakan harga telur dan ayam ras.

Untuk tahun ini, sasaran upsus adalah peningkatan produksi jagung menjadi 33,08 juta ton. Angka produksi ini bisa dicapai dengan dukungan program 4 juta ha lahan, alat dan mesin pertanian serta bantuan pembinaan.Namun, Yeka menilai, konsistensi menjadi persoalan.

Dari analisanya, dalam setahun kebutuhan industri pakan hanyalah 8 juta ton. Jika dirata-rata, kebutuhan per bulan berkisar 660 ribu ton. Namun, budaya petani yang menanam jagung, padi dan palawija secara bergantian tiap musim menyebabkan produksi jagung tak merata sepanjang tahun.

Pada saat yang sama, depresiasi rupiah juga turut mendorong lonjakan harga pakan. Hal ini karena bungkil kedelai masih harus didatangkan dari luar negeri.

Meroketnya harga telur sebulan terakhir juga disebabkan minimnya pasokan akibat berkurangnya populasi ayam petelur. Menurut Yeka, berkurangnya jumlah pelaku usaha akibat banyaknya pelaku usaha skala kecil yangbangkrut ketika harga jatuh dua tahun lalu menjadi penyebab terpangkasnya populasi ayam petelur.

Menurut Yeka, fenomena penurunan produktivitas ini terjadi setelah adanya larangan pengunaan antibiotic growth promoter (AGP).  “Penyakit yang menyebabkan produktivitas lebih massif dan inilah yang menyebabkan biaya produksi mahal. Akibatnya, harga telur juga menjadi mahal. Tanpa adanya upaya dari pemerintah membenahi masalah ini, biayaproduksi akan tetap mahal dan berimbas pada harga telur,” jelasnya.

Untuk saat ini sendiri, rata-rata harga ayam ras secara nasional telah berada di angka Rp39.100 per kilogram. Sementara itu, harga telur ayam ras sudah mencapai posisi Rp27.200 per kilogram.

Pemerintah, telah bergerak cepat mengetasi kenaikan harga. Kementerian Perdagangan telah mengumpulkan para stakeholder terkait untuk bisa memastikan tidak ada masalah dalam pakan ternak hingga ke pendistribusian menjadi urgen dilakukan. Pelonggaran impor DOC juga perlu dilakukan untuk menambah populasi ayam.

"Kami siapkan langkah intervensi pasar dengan meminta para integrator yang besar untuk mengeluarkan stoknya dan kami akan lakukan penjualan langsung di pasar jika harga tidak turun dalam seminggu," tutur Menteri Enggartiato.

(nas/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up