alexametrics
Hari Kartini

Jangan Pernah Takut Mengejar Cita-cita Hanya karena Status Perempuan

21 April 2018, 12:18:40 WIB

JawaPos.com – Nama Raden Ajeng Kartini menjadi salah satu inspirasi perempuan Indonesia. Jiwa dan semangatnya mencerminkan daya juang yang luar biasa dalam menghilangkan stigma buruk perempuan. Setelah Indonesia merdeka, makin banyak perempuan-perempuan menginspirasi lainnya. Salah satunya, Ira Puspadewi.

 

Bagi masyarakat umum, nama dia mungkin cukup asing. Padahal, dia memiliki jabatan strategis untuk menyambungkan transportasi antarpulau di Indonesia. Yakni, sebagai Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Ira menjadi bukti nyata, perempuan mampu bersaing dengan laki-laki.

Ira Puspadewi, dirut ASDP, ASDP, siapa dirut ASDP, berita ASDP, kabar ASDP,
Dirut PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi pernah mengalami masa-masa yang buruk setelah ayahnya meninggal dunia. Tapi, dia tidak patah semangat dan berhasil menjadi sukses (DERY RIDWANSAH/JAWA POS)

 

Di ranah birokrat, nama Ira bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir ini, ibu dua anak tersebut kerap mendapat kepercayaan besar mengisi kursi nomor satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sebut saja seperti PT Sarinah (Persero), PT Pos Indonesia (Persero), dan sekarang ASDP. 

 

Perjuangannya untuk mencapai titik tersebut tidaklah mudah. Ketika berusia tujuh tahun, perempuan yang merupakan anak bontot dari 11 bersaudara itu harus kehilangan sosok ayah yang meninggal dunia. Kondisi itu, sempat membuat Ira kecil hidup cukup prihatin. 

 

“Waktu ayah saya meninggal, statusnya perwira angkatan udara. Anaknya banyak dan semuanya mau kuliah. Kami hidup dari pensiunan ayah dan ada juga pemasukan dari jualan kue kecil. Kami memang agak kekurangan ekonomi, tapi tidak pernah miskin secara sosial karena selalu ada orientasi hidup yang baik seperti apa,’’ ujarnya kepada JawaPos.com saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (20/4).

 

Kondisi itu tak membuat Ira patah semangat untuk melanjutkan pendidikannya. Dia bahkan selalu berpegang teguh dari pesan sang ayah. Bahwa nilai seseorang bukan dilihat dari hartanya, melainkan dari moral serta intelektualnya.

 

“Ayah saya pernah bilang, nggak boleh minder atau rendah diri. Value orang itu dari hati dan otaknya. Jadi, kami nggak pernah grogi sama orang kaya, sama orang berpangkat. Pendidikan dikejar betul walau tidak mudah dan ibu saya adalah center dari kehidupan kami,” tuturnya.

 

Hidup Ira mulai menggeliat setelah menyelesaikan pendidikan Strata 1 (S1) di Universitas Brawijaya, Malang. Sebelum bekerja di GAP Inc. yang merupakan salah satu industri garmen terbesar di dunia, wanita asal Malang itu mencari pengalaman di Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan The Asia Foundation.

 

Pekerjaan terakhir itu yang menjadi jembatan untuk mengantarkan dirinya menjadi bagian dari tim GAP. “Jadi waktu itu direktur The Asia Foundation kenal saya, dialah yang menawarkan saya ke GAP. Jadi saya hidup dari rekomendasi-rekomendasi,” terangnya.

 

Setelah berkarir selama 17,5 tahun, pengabdian Ira di perusahaan asal Amerika Serikat tersebut akhirnya berakhir. Pada 2014, dia memulai karir barunya sebagai Direktur Utama PT Sarinah (Persero). Sejak saat itu, karir Ira kian melejit.

 

Dua tahun berselang, dirinya ditunjuk Menteri BUMN Rini Soemarno untuk menjadi Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero). Kemudian, tak lama setelah itu, dirinya dialihtugaskan untuk menakhodai PT ASDP Ferry Indonesia (Persero) hingga saat ini.

 

Diakuinya, menjadi perempuan yang memimpin sebuah BUMN besar tidaklah mudah. Apalagi, komentar negatif beberapa kali kerap terdengar. Hal itu rupanya tak digubris oleh Ira. Dia tak peduli ada orang yang memandang bahwa perempuan tidak cocok menjadi seorang pemimpin. Baginya, hasil nyata di lapangan akan menjadi pembuktian.

 

“Kebetulan secara psikologis, karena tujuh kakak saya cowok. Saya tumbuh dengan kakak laki-laki. Saya tumbuh di lingkungan tentara. Saya tidak punya hambatan dengan laki-laki. Jadi, saya cenderung mengabaikan bahwa orang melihat gender. Kerja dan buktikan,” jelas dia.

 

Meski kini telah menjadi wanita karir yang hebat, Ira tidak pernah melupakan keluarganya. Dia mengaku bersyukur memiliki suami yang mampu mendukung karirnya serta fokus kepada keluarga. Baginya, sosok sang suami mampu membuat dirinya tetap fokus pada karir namun tetap memperhatikan dan mendidik sang buah hati.

 

“Memilih partner penting sekali. Ngedidik anak gimana, bagi waktu gimana. Seingat saya ketika 17,5 tahun bekerja (di GAP, red) banyak kerja di luarnya. Selama itu, saya dan suami sempat sama-sama pergi. Jadi kami membuat kesepakatan, siapa yang pergi dan siapa yang di rumah. Tidak boleh dua-duanya pergi at the same time. Itu komitmen,” kata dia.

 

Lebih lanjut Ira menjelaskan, komitmen itu membuat buah hatinya tumbuh besar dan menjadi sosok anak yang baik. Bagi Ira, kebanggaan terbesar dirinya adalah memiliki anak yang baik dan menyayangi orang tuanya.

 

“Anak saya tiba-tiba WA, kangen nih. Kemudian saya telepon sebentar dan dia bilang ‘mom it feels good to have someone that always care for you and available for me’. Cuma ngomong kayak gitu, sebagai ibu, gimana gitu,” kenangnya lantas tersenyum.

 

Soal cita-cita, perempuan yang menempuh pendidikan S2 di Filipina dan S3 di Universitas Indonesia itu mengaku sudah terpenuhi. Meski, tidak sama dengan cita-cita kecilnya. Saat masih bocah, Ira hanya ingin memiliki teman dari berbagai negara serta bisa menikmati kudapan enak saat telah menjadi orang mapan.

 

“Waktu itu, ada film seri Amerika namanya Little House On the Prayer. Cita-cita dulu, supaya bisa nonton dengan baik saya berharap bisa berbahasa Inggris dan punya temen dari berbagai bangsa. Kini, itu sudah tercapai. Satu lagi, karena dulu saya punya keluarga yang kaya sekali, di rumahnya ada makanan dan jajan pasar enak. Jadi cita-cita saya adalah, di rumah saya nanti kalau sudah punya uang ingin ada jajanan enak. Itu juga sudah tercapai. Bisa seperti sekarang nggak pernah terbayang,” kata dia.

 

Di hari Kartini ini, dirinya berpesan kepada seluruh perempuan Indonesia agar tidak pernah takut mengejar cita-citanya hanya karena perempuan. Baginya, zaman saat ini telah berubah dengan cepat. Perbedaan jenis kelamin kini bukan lagi halangan untuk terus bisa bersaing menggapai asa di masa depan.

 

Keep doing good saja. Kalau Anda bagus, pasti ada yang support. Selalu kerjakan yang disenangi, kemudian be the best in whatever you doing. Soal takut dia perempuan atau tidak ya abaikan saja,” kata Ira menutup perbincangan.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (ce1/hap/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Jangan Pernah Takut Mengejar Cita-cita Hanya karena Status Perempuan