JawaPos Radar

Kepala Bappenas Bilang Begini

Mau Tahu Kenapa Ekonomi Indonesia Hanya Tumbuh di Kisaran 5 Persen

21/03/2018, 16:18 WIB | Editor: Mochamad Nur
Mau Tahu Kenapa Ekonomi Indonesia Hanya Tumbuh di Kisaran 5 Persen
Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brojonegoro (Dok. Jawa Pos)
Share this image

Jawapos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berkutat d angka lima persen sejak 2013. Bahkan, ekonomi Indonesia pernah mengalami penurunan dari 5,58 persen di tahun 2013 menjadi 4,79 persen di tahun 2014.

Meski mampu bangkit pada tahun 2016 namun angkanya masih jauh dibawah 5,58 persen. Ekonomi hanya tumbuh 5,02 persen di tahun 2016. Selanjutnya, dengan didorong beberapa faktor pada tahun 2017 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,07 persen.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro mengaku banyak kalangan yang mengeluhkan pertumbuhan ekonomi yang enggan beranjak dari angka 5 persen. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya nilai tambah pada perekonomian dalam negeri.

“Peningkatan nilai tambah ekonomi, kenapa, orang mengeluh sekarang kenapa pertumbuhan kita kok susah di atas 5 persen. Nah salah satunya itu adalah kurangnya nilai tambah pada perekonomian kita,” jelas Bambang di kantornya, Rabu (21/3).

Dia menyebut saat ini Indonesia masih asik untuk mengeruk bahan baku yang berasal dari sumber daya alam. Padahal banyak negara yang sudah mulai memanfaatkan teknologi untuk berinovasi menciptakan nilai tambah perekonomian.

“Jadi kalau punya tambang, masih maunya ekspor hasil tambangnya bukan produk yang dihasilkan setelah mengolah, dan nilai tambahnya pasti jauh lebih besar,” jelas dia.

Itu baru dari bahan baku saja, belum lagi dari sisi pertanian. Bambang menyebut negara Inggris sudah dapat memproduksi buah jeruk tanpa biji. Menurutnya, hal tersebut adalah salah satu inovasi yang dilakukan Inggris di bidang pertanian.

“Jadi itu menunjukkan bagaimana kita itu istilahnya belum pada tahapan menghasilkan produk yang diinginkan konsumen,” ujarnya.

Dia berpendapat selama ini Indonesia selalu memikirkan pasokan tanpa berpikir apa yang diinginkan pembeli. Sebabnya karena malas menciptakan nilai tambah dengan memberikan sentuhan teknologi.

“Kita lebih memikirkan apa yang dimau suplai daripada yang diinginkan oleh pembeli, karena apa, karena malas untuk menciptakan nilai tambah karena malas untuk memberikan sentuhan teknologi, karena itu lah (tidak pernah ada nilai tambah ekonomi),” jelasnya.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up