alexametrics

Kementan Jamin Aman Telur di Jawa Timur

Temuan di Tropodo, Krian, Bersifat Kasuistik
19 November 2019, 12:09:00 WIB

JawaPos.com – Warga Jawa Timur (Jatim) diminta tak perlu takut mengonsumsi telur yang beredar di daerahnya. Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan bahwa telur-telur tersebut aman dari zat berbahaya. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan I Ketut Diarmita menuturkan, hasil penelitian yang dirilis jaringan kesehatan lingkungan global (IPEN) hanya berlaku untuk ayam kampung dengan pemeliharaan umbaran.

Ayam itu itu dipelihara di daerah terpapar sampah plastik di Tropodo, Krian, Kabupaten Sidoarjo.

Menurut Ketut, itu tidak mewakili seluruh telur yang dihasilkan di Jatim. ”Itu kasuistik. Terutama ayam kampung yang dilepas di pembuangan sampah,” ujarnya saat ditemui di kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta, kemarin (18/11).

Ketut mengulas, populasi unggas yang menghasilkan telur di Jatim pada 2018 adalah 97,4 juta ekor. Jumlah tersebut berkontribusi 28 persen terhadap populasi unggas nasional. Perinciannya, ayam buras (kampung) 20.148.523 ekor, ayam ras petelur (layer) 49.509.791 ekor, itik 5.816.943 ekor, entok 1.522.663 ekor, dan burung puyuh 3.817.652 ekor.

Produksi telur di Jatim sebanyak 96,3 persen berasal dari ayam ras petelur. Sisanya baru ayam buras. Sebagai informasi, untuk ayam ras petelur dan burung puyuh, dipastikan metode pemeliharaannya adalah dikandangkan secara optimal. Untuk ayam buras, itik, dan entok penghasil telur, 80 persen dikandangkan dan 20 persen masih umbaran.

Artinya, tidak semua ayam kampung diternakkan dengan cara umbaran. Itu pun perlu digarisbawahi, ayam kampung model umbaran dipelihara di daerah sampah plastik seperti Tropodo. ”Fakta di Jatim 96,3 persen telur dihasilkan dari ayam ras petelur yang sudah menerapkan good farming practices, sedangkan ayam kampung penghasil telur hanya 3,7 persen,” jelasnya.

Ketut menuturkan, solusi dari isu yang merebak di masyarakat ini sederhana. Cukup hindari melepas ayam kampung di daerah sampah. ”Ayam umbaran kita di kampung-kampung yang dilepas di kebun pasti lebih baik dari ayam yang makan di tempat pembuangan sampah,” ungkapnya.

Isu mengenai telur ayam berbahaya tersebut muncul setelah IPEN merilis temuannya dengan judul ”Plastic Waste Poisons Indonesia’s Food Chain”. Penelitian dilakukan di wilayah Tropodo, Sidoarjo, daerah yang dibanjiri limbah sampah plastik impor dari berbagai negara. Limbah sampah itu digunakan warga sekitar sebagai bahan bakar produksi pabrik tahu.

Penasihat Pinsar Petelur Nasional (PPN) Robby Susanto menyatakan bahwa isu telur ayam kampung yang mengandung racun harus disikapi pemerintah. Jika tidak, bisnis telur bisa terpengaruh –meski sejauh ini belum ada dampak yang terlihat. ”Pemerintah sebaiknya memberi tahu. Misalnya, ayam-ayam di desa itu sudah ditangkap,” tuturnya kemarin.

Robby menjelaskan bahwa laporan yang dikeluarkan IPEN tidak mewakili Jatim secara keseluruhan. Sebab, hanya dua desa yang diteliti. Selain itu, menurut dia, yang dimaksud dari laporan tersebut adalah ayam kampung yang tidak dikandangkan. Jumlahnya hanya sedikit karena produksi telur di Jatim 96,3 persen berasal dari ayam petelur.

Sementara itu, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah mendapat laporan dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bahwa ada orang Malang yang keracunan gara-gara memakan telur. Telur tersebut didapat dari peternak yang ayamnya makan ampas tahu hasil produksi di Tropodo itu. ”Saya langsung cek dan ambil telurnya,” kata dia.

Abah Ipul, sapaan akrab Saiful Ilah, mengatakan, ada 14 butir telur yang dijadikan sampel. Telur tersebut dia berikan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo untuk dicek. ”Sudah saya berikan. Apa benar ada racunnya atau tidak,” ucapnya.

Abah Ipul mengungkapkan, penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar pembuatan tahu telah berlangsung puluhan tahun. Masyarakat tidak mempermasalahkan konsumsi tahu. Tapi asap hitam yang ditimbulkan dari hasil pembakaran. ”Dulu saya punya pabrik yang menghasilkan asap hitam. Tapi sekarang tidak. Punya rahasianya,” ujar dia.

Pemkab Sidoarjo berencana membenahi filter pembakaran agar keluaran asap tidak hitam. Lantas bagaimana sampah plastik? ”Tunggu hasil uji telur. Kalau benar ada racunnya, ya pabrik tahu akan kita tutup sementara,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo Tjarda menyatakan menghadiri rapat bersama gubernur Jatim kemarin. Rapat tersebut membahas solusi penggunaan bahan bakar pembuatan tahu. ”Diupayakan tidak lagi pakai sampah plastik,” katanya.

Tjarda menjelaskan, ada upaya pengganti bahan bakar limbah. Salah satunya penggunaan gas. ”Apabila perlu, nanti diupayakan dapat subsidi dari pemerintah melalui Pertamina,” tuturnya. Selain gas, alternatif lain adalah wood pallet.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : mia/lyn/oby/aph/c9/ayi/oni


Close Ads