JawaPos Radar

Potensi Besar, Indonesia Ingin Jadi Pemasok Utama Kayu Sengon di Dunia

19/10/2018, 20:30 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Dirjen Pengembangan ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Arlinda
BERI KETERANGAN: Dirjen Pengembangan ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Arlinda saat memberikan keterangan kepada wartawan disela kegiatan Indonesia Lightwood Coorperation Forum (ILCF) ketiga yang diadakan di de Tjolomadoe, Jumat (19/10). (Ari Purnomo/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Indonesia mempunyai potensi besar produk kayu ringan dari pohon sengon. Selama ini, kayu sengon dari Indonesia dikenal memiliki kualitas terbaik dibandingkan negara lainnya seperti Malaysia dan Filipina.

Akan tetapi, sampai sekarang Indonesia belum mampu menjadi pemasok utama dari kebutuhan kayu sengon di dunia yang mencapai 50 juta kubik per tahunnya. Dari jumlah tersebut Indonesia hanya bisa memasok antara 3-4 juta kubik saja per tahunnya. 

Maka dari itu pemerintah pun menggulirkan program menanam 1 miliar pohon sengon dalam setahun. Program ini diharapkan dapat menjadikan Indonesia sebagai negara pemasok kayu sengon terbesar di dunia.

"Penanaman pohon sengon ini tidak perlu menggunakan hutan, tidak perlu lahan yang luas, bisa di halaman rumah yang penting ada bibitnya," terang Dirjen Pengembangan ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Arlinda usai menghadiri Indonesia Lightwood Coorperation Forum (ILCF) ketiga yang diadakan di de Tjolomadoe, Jumat (19/10). 

Arlinda menambahkan, selama ini tidak ada pesaing terbesar pemasok kayu sengon. Dan Indonesia memiliki potensi yang dinilai lebih unggul dalam hal kualitasnya. Dibandingkan dengan beberapa negara pemasok, kualitas kayu sengon dari Indonesia memiliki kualitas terbaik.

Maka dari itu, dengan program menanam 1 miliar pohon sengon ini diharapkan dapat mengantarkan Indonesia menjadi pemasok kayu ringan terbesar di dunia. "Mereka (pengusaha kayu) ingin Indonesia menjadi pusat untuk kayu ringan ini," katanya.

Selain penanaman satu miliar pohon, hal lain yang akan dilakukan adalah dengan mengolah kayu sengon menjadi barang jadi. Selama ini, penjualan kayu sengon ke Tiongkok masih dalam bentuk barecore atau setengah jadi. Padahal, jika bisa diolah menjadi barang jadi dan siap jual maka harganya bisa dua kali lipatnya. 

"Dari Tiongkok, kayu setengah jadi diolah menjadi barang jadi dan dijual ke Eropa dengan harga dua kali lipatnya," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Indonesia Lightwood Association (ILWA), Sumardji Sarsono mengungkapkan, pohon sengon memberikan potensi yang besar. Terlebih penanaman sampai dengan masa panen tidak membutuhkan waktu lama.

"Untuk usia sampai siap panen itu antara lima sampai tujuh tahun, jadi kami menargetkan di tahun 2025 mendatang sudah bisa memanen satu miliar pohon sengon," ucapnya.

(apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up