JawaPos Radar

Dorong Perekonomian, Indonesia Fokus Tarik Modal di Sektor Industri

19/03/2018, 06:07 WIB | Editor: Mochamad Nur
Dorong Perekonomian, Indonesia Fokus Tarik Modal di Sektor Industri
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Istimewa)
Share this

JawaPos.com - Pemerintah gencar mencari investor asing untuk menanamkan modalnya di sektor industri. Upaya ini, dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan dan menghasilkan devis negara.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartanto mengatakan, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk pelaku industri dalam negeri untuk melakukan ekspansi. Hal ini, terlihat dari sektor manufaktur yang sedang menunjukkan geliat yang positif.

"Laporan indeks manajer pembelian atau Purchasing Manager Index (PMI) yang dirilis Nikkei dan Markit, pada Februari 2018 mencatat, PMI manufaktur Indonesia naik menjadi 51,4, dibanding bulan Januari di posisi 49,9," katanya, di kantor Kementrian Perindustrian (Kemenperin) dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (18/3).

Dia menambahkan, PMI di atas 50 menunjukkan bahwa manufaktur tengah ekspansif. Dari capaian PMI ini, Airlangga mengatakan bahwa ini memperlihatkan bahwa posisi ini merupakan peringkat tertinggi pada kondisi operasional sejak Juni 2016 atau 20 bulan yang lalu.

Selain capaian ini, Airlangga menambahkan bahwa ekonomi Indonesia berada di posisi Top 10 dan kontribusi ekspornya bisa mencapai 10 persen dari GDP. Dari hasil riset internasional yang dilakukan juga, Menperin mengungkapkan, Indonesia masih menjadi negara tujuan utama untuk investasi.

"Misalnya, survei US News US News & World Report, dari 80 negara, Indonesia dinilai sebagai negara tujuan investasi terbaik kedua di dunia. Peringkat ini ditentukan berdasarkan tiga indikator, yakni populasi, jumlah GDP, dan pertumbuhan GDP pada 2016," bebernya.

Dari capaian ini, Menperin meyakini, Indonesia siap menghadapi dan menjalani revolusi industri keempat atau Industry 4.0. "Ada lima lighthouse industry yang kami siapkan, yaitu indutri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, otomotif, elektronik, dan kimia," sebutnya.

Sementara untuk Industri Kecil dan Menengah (IKM), untuk meningkatkan akses pasar melalui online, Kemenperin meluncurkan program e-Smart IKM dengan bekerja sama bersama beberapa marketplace dalam negeri.

Airlangga mengungkapkan hal ini dari pertemuannya dalam Delegasi US-ASEAN Business Council di Kementerian Perindustrian. Rombongan Amerika Serikat (AS), dihadiri oleh HM Sampoerna, Mattel, Visa, Harley Davidson, BP, Honeywell, Novartis, Sanofi, Apple, Amway, Coca-cola, Exxon Mobil, dan P&G.

"Pemerintah mendorong adanya perjanjian bilateral untuk meningkatkan ekspor industri tekstil Indonesia ke AS. Saat ini, produk tekstil kita kena bea masuk di sana sebesar 12,5 persen. Sedangkan Vietnam, sudah nol persen karena ada agreement kedua negara. Jadi, perjanjian tersebut akan mendongkrak daya saing produk kita," terangnya.

Untuk itu, pemerintah tengah menyiapkanan diri dengan melakukan tindakan pengamanan perdagangan dalam menghadapi serbuan produk impor, menyusul imbas kebijakan kenaikan tarif impor baja dan alumunium di AS.

Tercatat, pada 2017, nilai investasi AS di Indonesia pada sektor manufaktur sebesar USD 86,1 juta, yang di antaranya tertinggi dari industri tekstil mencapai USD 14 juta dan industri makanan USD 12 juta. Lalu nilai ekspor Indonesia ke AS pada tahun 2017 sendiri, sebesar USD 17,7 miliar, dengan salah satu kontribusinya dari produk pakaian dan sepatu olah raga sebesar USD 4,5 miliar.

(sab/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up