JawaPos Radar

Jadi Transmigran, Solihin Kini Punya Kebun “Uang”

Raup Keuntungan Rp 600 Juta Setahun

18/08/2018, 15:55 WIB | Editor: Mochamad Nur
Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo
Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo memberi penghargaan pada Solihin, Juara I Transmigran Teladan 2018 (tengah). (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com —Awalnya tak pernah terpikir oleh Solihin untuk menjadi seorang transmigran yang sukses di Desa Mahalona, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Solihin awalnya merupakan seorang sopir tembak yang hidupnya serba pas-pasan. Bahkan, untuk membiayai anaknya sekolah saja hampir tidak mampu. Terutama anak pertamanya yang mengenyam pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Tahun 1995 sampai sekitar 2013 mayoritas pekerjaan saya hanya jadi sopir tembak. Bukan di Solo, tapi justru di Sragen dan Banyuwangi. Anak saya masuk kuliah 2013 lalu. Penghasilan sopir tembak pun untuk membayar biaya kuliah,” tutur Solihin saat ditemui usai acara Penganugerahan Transmigran Teladan di Gedung Balai Makarti Muktitama, Jakarta, Rabu (15/8).

petani merica, transmigran asal Desa Mahalona
Solihin, petani merica transmigran asal Desa Mahalona, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. (Istimewa)

Solihin mengakui, lebih dari 10 tahun hidupnya tak menentu. Hasil kerja menjadi sopir tembak hanya berkisar Rp 700 ribu hingga Rp 900 ribu per bulan. Menurutnya, hasil yang didapatnya itu tidak mungkin bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dan membiayai anak-anaknya sekolah.

Pria yang saat itu tinggal di Gilingan, Surakarta, bersama keluarganya akhirnya mendengar adanya informasi mengenai pengiriman transmigran. “Saya akhirnya datang ke kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnaker) untuk tanya-tanya informasi tentang menjadi transmigran. Karena saya dan keluarga sudah bertekad ingin merantau,” katanya.

Kemudian, setelah mendaftar dan dinyatakan diterima, Solihin bersama keluarganya mengikuti persiapan dan berangkat tahun 2014 lalu ke Mahalona, Kabupaten Luwuk Timur, Sulawesi Selatan. Pria tiga anak tersebut termotivasi mengikuti program transmigrasi dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Sulitnya hidup di Jawa dengan lapangan kerja yang terbatas membuatnya memutuskan menjadi transmigran.

“Pada saat itu cari gaji satu juta saja sulit. Bagaimana nanti nasib anak-anak yang masih kecil. Nah, di lokasi transmigrasi saya dapat rumah dan tanggungan makan setahun. Lalu diberikan lahan satu hektar. Dua tahun kemudian diberikan lagi 1 hektar,” ungkapnya.

Meski sudah mendapatkan tanah, dia tak langsung menggarap lahan tersebut. Dengan uang pegangan sebesar Rp 9 juta, Solihin memilih untuk berdagang terlebih dahulu. Ia membeli merica atau lada milik masyarakat sekitar dan dijual kembali di pasar.

“Penjualan saya bagus. Saya bisa setor sampai Rp 15 juta ke bos saya. Dalam sebulan sedikitnya saya bisa dapat Rp 5 juta. Bos makin percaya dengan saya,” sambungnya.

Dengan penghasilan itu, ia memilih untuk membeli lahan daripada menabungnya. Usahanya tak sia-sia. Kini dirinya memiliki total lahan 5 hektar untuk menanam merica. Saat ini yang sedang ditanami 2 hektar. Buah merica dari lahannya juga dia jual. Sambil tetap berdagang, kini penghasilannya sudah mencapai Rp 600 juta setahun.

“Saya mulai fokus menanam merica pada 2015. Waktu itu harganya Rp 170 ribu/ kilogram. Meski saat ini harganya turun, namun pasarnya tetap bagus. Dari provinsi bahkan selalu mencari merica di tempat saya,” katanya.

Setelah berhasil dinobatkan sebagai Juara I Transmigran Teladan 2018, Solihin berharap infrastruktur pendukung pertanian di kawasan transmigrasi ke depannya dapat lebih difasilitasi. Menurut Solihin, hal yang dibutuhkan adalah jalan produksi tani, jembatan, serta percetakan sawah. Jika semua terpenuhi, maka para transmigran di Kota Terpadu Mandiri (KTM) Kawasan Transmigrasi Mahalona akan makmur.

“Pesan saya, jangan lelah mencari ilmu. Ilmu yang didapat coba terapkan di tempat asal,” pesannya.

Transmigrasi, lanjut dia, perlahan mengubah hidupnya. Anak pertamanya kini sudah berkeluarga. Yang kedua menjadi pramugari. Lalu adiknya masih sekolah. Bagi Solihin, pendidikan yang baik harus jadi nomor satu.

Sejak 10 Agustus lalu, para transmigran teladan telah berada di Jakarta untuk mengikuti serangkaian kegiatan. Usai mengikuti Anugerah Transmigran Teladan,  para transmigran teladan  mengikuti Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia di Gedung DPR/MPR. Kemudian transmigran teladan terpilih mengikuti upacara kenegaraan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara pada 17 Agustus 2018.

(tau/c7/wir)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up