JawaPos Radar

DMII-ACT Gelar Seminar Upaya Pengurangan Risiko Bencana Industri

18/07/2018, 22:38 WIB | Editor: Yusuf Asyari
DMII-ACT Gelar Seminar Upaya Pengurangan Risiko Bencana Industri
Ilustrasi: Perlunya kawasan industri memiliki Business Continuity Plan (BCP) untuk upaya pengurangan risiko bencana di kawasan industri. (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) ACT menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk Mempersiapkan Kawasan Industri untuk Menghadapi Bencana. Seminar digelar di Wisma Antara, Auditorium Adhiyana Lantai 2, Jakpus, Rabu (18/7).

Senior Vice President ACT Syuhelmaidi Syukur mengatakan, kegiatan tersebut sebagai upaya pengurangan risiko bencana untuk kawasan industri. "Kita coba dorong masing-masing kawasan industri untuk memiliki Business Continuity Plan (BCP),” ujarnya.

Sejumlah Narasumber kompeten di bidangnya hadir di seminar nasional tersbut. Yaitu Profesor Krishna Surya Pribadi, Pakar Mitigasi Bencana dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Faisal Djalal, Chairman APAD Indonesia (Asia Pacific Alliance for Disaster Management-Indonesia), dan dan Ibnu Khajar dari Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) ACT.

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki risiko tertinggi terhadap berbagai jenis bencana alam. Sebab, posisi geografis Indonesia merupakan tempat pertemuan empat lempeng tektonik dunia yang menghasilkan sesar-sesar subduksi, selain sesar intra lempeng.

Sampai saat ini telah ditemukan sekitar 295 sumber gempa aktif di seluruh Indonesia. Situasi itu menyebabkan Indonesia rawan terhadap bahaya gempa, tsunami, dan aktivitas vulkanik.

Selain itu, kondisi iklim di Indonesia menyebabkan curah hujan tinggi di beberapa daerah dan kekurangan curah hujan di daerah lainnya. Keadaan ini dikombinasikan dengan kondisi penataan kawasan yang tidak tertib.

Di tambah berkembangnya daerah-daerah urban yang sangat padat tanpa disertai infrastruktur yang memadai. Hal itu meningkatkan ancaman bahaya banjir, longsor, dan kekeringan.

Perusahaan asuransi global, Swiss Re, melalui penelitian pada 2012 menyampaikan daftar kawasan-kawasan industri di Asia yang masuk kategori berisiko terserang bencana banjir besar. Paling atas China, negara dengan kawasan industri paling rentan bencana banjir.

Selanjutany Malaysia di posisi 5, Indonesia di posisi 7, Thailand 9, dan India ke 10. Swiss Re menilai, negara-negara di Asia masih terus membuat kesalahan yang sama hingga saat ini.

Mereka tidak pernah belajar dari kasus Thailand yang menyebabkan 1.000 pabrik, yang merupakan bagian dari sistem pasokan dunia, mengalami kerugian hingga US$20 miliar akibat banjir. Dibutuhkan waktu setahun bagi Thailand untuk dapat memulihkan perekonomiannya kembali.

Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi sekitar 5.7 persen memiliki sejumlah besar industri yang tersebar di berbagai zona industri dan kawasan industri (industrial parks). Hingga saat ini tercatat ada 83 kawasan industri di Indonesia.

Semuat tersebar di berbagai wilayah termasuk juga 12 kawasan ekonomi khusus, yang berada dibawah koordinasi Himpunan Kawasan Industri Indonesia.

Dengan kondisi ancaman bencana alam yang ada, ditambah dengan berbagai bahaya akibat aktivitas manusia seperti kegagalan teknologi, kerusuhan sosial, aksi terorisme dan sebagainya, maka risiko bencana bagi dunia industri di Indonesia cukup besar.

Dampaknya akan merugikan usaha dan industri karena terganggunya berbagai fasilitas dan infrastruktur yang dapat menyebabkan terganggunya operasi kegiatan usaha dan industri. Perlu dilakukan langkah-langkah sistematis untuk menurunkan risiko gangguan usaha karena bencana.

(yuz/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up