JawaPos Radar

Strategi Ini Bisa Dipakai Pemerintah Lunasi Utang Luar Negeri

17/03/2018, 15:15 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Strategi Ini Bisa Dipakai Pemerintah Lunasi Utang Luar Negeri
ilustrasi mata uang Rupiah dan Dolar AS (Dok. JawaPos.com)
Share this image

Jawapos.com - Bank Indonesia (BI) mencatat utang Indonesia hingga Januari 2018 sebesar USD 357,5 miliar atau sebesar Rp 4.897,7 triliun (kurs Rp 13.700). Akan tetapi, seluruh utang Indonesia merupakan utang jangka panjang. Tercatat, utang jangka panjang Indonesia sebesar 85,9 persen atau sekitar USD 307,2 miliar. Sementara utang jangka pendeknya mencapai USD 50,3 miliar atau 14,1 persen.

Bagaimana cara menjaga utang Indonesia tidak menghadapi risiko besar sehingga mampu untuk dilunasi? Caranya adalah dengan menjaga cadangan devisa. Cadangan devisa, selain digunakan sebagai menjaga stabilitas rupiah juga digunakan untuk membayar utang luar negeri pemerintah.

"Kita perlu cadangan devisa untuk menjaga rupiah. Tapi kita dengan cadangan devisa kita yang tinggi, berarti kita punya kemampuan untuk (membayar utang) itu," kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia M Faisal, kepada Jawapos.com di Jakarta, Sabtu (17/3).

Cadangan devisa akan naik bila sumber­ sumber pendapatan devisa terus mengalirkan dana segar. Sebaliknya, cadangan akan menyu­ sut bila kebutuhan pembayaran utang dan biaya operasi moneter untuk menstabilkan nilai tukar rupiah melonjak.

Dalam menjaga cadangan devisa, dalam hal ini Bank Indonesia bertindak sebagai pengelolanya. Asal tahu saja, cadangan devisa berasal dari ekspor minyak dan gas, jasa kas negara, serta utang luar negeri yang dilaku­kan oleh pemerintah. Dana milik pemerintah dalam bentuk valuta asing (valas) itulah yang akan dikelola oleh BI.

Cadangan devisa akan semakin terjaga jika kondisi likuiditas valas di dalam negeri mencu­ kupi. Jika pasokan valas senantiasa tersedia dalam jumlah besar, maka kondisi nilai tukar rupiah tidak mudah tertekan akibat sentimen negatif.

Untuk bisa mendatangkan devisa, pemerintah tidak hanya bisa dapat mengandalkan valas alias pasar valuta asing saja. Di sisi lain pemerintah harus dapat memperkuat neraca transaksi berjalan. Caranya dengan meningkatkan pendapatan transaksi berjalan atau current account receipts yakni pendapatan yang berasal dari ekspor barang dan jasa.

"Neraca perdagangan ekspor impor kita berkontribusi positif, tapi dalam tiga bulan terakhir mengalami defisit, sehingga tiga komponen penting pembentuk transaksi berjalan kita semuanya defisit akhirnya menyebabkan rupiah secara fundamental akan melemah," jelasnya.

Hal inilah yang akhirnya membuat mata uang rupiah menjadi mudah keok ketika ada guncangan dari global. “Ketika The Fed menaikkan tingkat suku bunganya, maka yang terkoreksi paling tajam adalah nilai tukar emerjing market dibandingkan negara-negara lain,” ujarnya.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up