JawaPos Radar

Jika Pemerintah Gagal Lobi Trump, RI Bisa Kebanjiran Produk AS

16/07/2018, 14:44 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Jika Pemerintah Gagal Lobi Trump, RI Bisa Kebanjiran Produk AS
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (Brendan McDermid/Reuters)
Share this image

JawaPos.com - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita bersama jajaran akan ke Amerika Serikat 21 Juli 2018 mendatang. Untuk bertemu perwakilan dari United States Trade Representative (USTR), melobi pemerintah Amerika Serikat agar tidak mencabut fasilitas Generalized System of Preferences atau GSP.

Tak tanggung-tanggung, GSP diberikan kepada 3.547 produk ekspor Indonesia. Jika fasilitas ini dicabut, akan berdampak besar bagi iklim usaha dalam negeri. Sebetulnya, pihak AS memang selalu melakukan review terhadap produk yang diberi fasilitas GSP. Salah satunya dilihat berdasarkan pertumbuhan PDB di suatu negara.

Lantaran Indonesia, Amerika Serikat mengalami defisit USD 14 miliar, maka Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun akhirnya mempertimbangkan untuk mencabut fasilitas GSP tersebut. 

Ekonom INDEF Bhima Yudistira menuturkan, selain membawa dokumen salah satu cara yang dapat dilakukan Indonesia jika Trump tetap kukuh ingin mencabut GSP adalah dengan membuka impor lebih besar bagi produk Amerika Serikat.

“Trump ingin seimbangkan neraca dagangnya. Kita siap-siap banjir impor produk AS untuk selamatkan ekspor. Tragis memang,” kata Bhima kepada Jawapos.com di Jakarta, Senin (16/7).

Dia menuturkan saat ini Indonesia memang bergantung impor kedelai segar dan olahan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2017 saja Indonesia mengimpor hingga 6,9 juta ton kedelai. Sebanyak 2,6 juta ton berasal dari Amerika Serikat atau setara 37 persen. Selain kedelai, Indonesia juga mengimpor gandum sebanyak 1,1 juta ton dari Amerika Serikat per tahun.

Perkuat Daya Saing Jadi Kunci Utama

Sementara itu, dari sisi ekspor, produk Indonesia yang cukup mentereng diekspor ke negeri paman Sam bermacam-macam. Misalnya produk perikanan (ikan segar, olahan kaleng, dan seafood lainnya), peternakan, perkebunan (karet, cokelat), rokok, pakaian jadi dan fashion (tas, sarung tangan, karpet, sepatu), keramik, besi baja serta alumunium.

Jika GSP dicabut, bisa jadi tarif impor atau bea masuknya jadi lebih tinggi. Hal ini sebetulnya tak lantas membuat Indonesia kalah. Sayangnya, yang menjadi pertanyaan apakah produk-produk yang diekspor ke Amerika Serikat mampu bersaing dengan negara-negara lain atau tidak.

“Sekarang saja misalnya soal pakaian jadi, kita sudah dapat GSP masih tetap kalah dengan produk asal Vietnam. Apalagi fasilitas dicabut,” kata dia.

Dia bilang ada beberapa faktor yang membuat Indonesia kurang kompetitif dengan negara tetangga. Misalnya produktivitas tenaga kerja, teknologi yang masih tradisional hingga masalah biaya logistik yang mahal bahkan mencapai 25 persen PDB.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up