alexametrics

Pengamat Sebut Kementan-Importir Teliti Hitung Harga Bawang Putih

16 Mei 2019, 20:16:46 WIB

JawaPos.com – Belakangan ini masyarakat sering mengeluhkan tingginya harga bawang putih. Untuk mengatasinya perlu dilakukan impor.

Pengamat pertanian Universitas Nasional (Unas) IGS Sukartono menyebut, Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) bukan serta merta menjadi pemicu mahalnya harga bawang putih. Sebab untuk mendapatkan RIPH ada berbagai aspek yang harus diperhatikan importir.

“Kementerian Pertanian (Kementan) tidak bisa asal mengeluarkan RIPH kalau importirnya tidak mau patuh dengan syarat ditetapkan. Misalnya kewajiban tanam bawang putih lima persen di Indonesia,” kata IGS Sukartono, Kamis (16/5).

Sukartono meyakini proses penentuan harga bawang putih dilakukan secara teliti oleh Kementan dan importir. Agar tidak terjadi lonjakan harga di pasaran, importir harus menghitung dulu berapa ongkos distribusi dari negara asalnya. Dari angka itu baru didapatkan harga pasaran. “Penentuan harga jual kan juga masuk di dalam syarat RIPH. Harus dipatuhi importir. Tidak mungkin asal saja menetapkan harga jual,” ujarnya.

Menurut Sukartono sangat mustahil Kementan melakukan penetapan harga jual bawang putih secara sepihak. Sebab yang mengetahui ongkos biaya bisnis bawang putih adalah importir.

Sebelumnya, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan Agung Hendriadi optimistis stok semua komoditas pangan utama masih cukup untuk memenuhi kebutuhan periode puasa-Lebaran 2019. “Periode puasa-Lebaran ini juga berbarengan dengan masa panen,” katanya Senin (13/5).

Dia menyebut, untuk dua komoditas, yakni bawang putih dan daging sapi, masih di-support oleh impor. Sebanyak 90 persen kebutuhan konsumsi nasional bawang putih berasal dari impor.

Agung menyebutkan, kebutuhan konsumsi bawang putih nasional mencapai 600 ribu ton per tahun. Jumlah itu bisa dicapai jika luas tanam mencapai 60 ribu hektare dengan asumsi panen 10 ton per hektare.

Padahal, kondisi saat ini, luas tanam baru mencapai 20 ribu hektare dengan perkiraan panen 200 ribu hektare. Seluruh produksi dalam negeri ini dikonsentrasikan untuk ditanam kembali menjadi benih bawang putih. Diharapkan, pada 2021 Indonesia sudah swasembada. “Per hektarenya butuh 4 ton. Para importir juga kami wajibkan dedikasi 5 persen untuk dijadikan benih,” kata Agung.

Editor : Ilham Safutra



Close Ads