Konflik di Syria, Suplai BBM Dalam Negeri Terganggu?

16/04/2018, 11:42 WIB | Editor: Ilham Safutra
Kebutuhan minyak Indonesia 1,6 juta barel per hari. Sedangkan produksi per hari hanya 800 barel per hari. (dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Selain berimbas pada permintaan dan harga minyak dunia, ketegangan di Timur Tengah juga berdampak terhadap kinerja PT Pertamina (Persero) dan BUMN lainnya. Perusahaan plat merah yang bergantung pada minyak untuk menjalankan bisnisnya berharap bantuan pemerintah.

"Pertamina tidak bisa menyesuaikan ke harga pasar tetapi harus diproteksi oleh pemerintah sementara kan bahan bakunya sebagian mereka impor," ujar Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro.

Sedangkan untuk impor harganya harus mengikuti harga pasar. Saat ini dari kebutuhan minyak dalam negeri sebesar 1,6 juta barel per hari, produksi minyak nasional baru mencapai 800 ribu barel per hari. Sisanya sebesar 800 ribu bph masih harus dipasok dari impor.

Kebutuhan minyak Indonesia 1,6 juta barel per hari. Sedangkan produksi per hari hanya 800 barel per hari. (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

Apalagi, pemerintah akan merevisi Perpres No. 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceren BBM dan Peraturan Menteri ESDM No. 39 Tahun 2014 Tentang Perhitungan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak.

Adanya revisi aturan tersebut membuat Pertamina, Total, Shell, AKR maupun Vivo harus mendapatkan izin dari pemerintah untuk menaikkan harga BBM non subsidi. Seperti Pertamax, Pertalite maupun Dexlite.

Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) M. Iskandar mengatakan jika memang Pertamina tidak bisa melakukan penyesuaian harga di tengah kenaikan harga minyak dunia maka ke depan dapat menghambat investasi perseroan. "Seperti membangun kilang,” ujarnya.

Kenaikan harga minyak dunia juga diperkirakan berdampak terhadap kinerja PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN. Sebab, PLN masih memiliki pembangkit yang menggunakan BBM (Bahan Bakar Minyak) sebagai bahan bakar sebesar 5,81 persen dari total pembangkit. Angka ini ditargetkan dapat ditekan menjadi 5 persen pada 2018.

"Meskipun secara volume tidak sampai 10 persen tetapi biaya porsinya juga masih signifikan. Jadi kalau tidak dinaikkan tarif listriknya pasti akan berdampak terhadap keuangan PLN," imbuh Komaidi.

Pemerintah memang memastikan untuk tidak menaikkan tarif listrik hingga akhir 2019 untuk menjaga daya beli masyarakat. Takhanya itu, kenaikan harga minyak dunia juga dikhawatirkan dapat memberikan beban kepada industri.

Sebab, kenaikan BBM bagi industri bukan termasuk yang harus mendapatkan ijin terlebih dahulu dari pemerintah. "Pasti akan dibebankan ke harga barang tadi," ujar Komaidi.

Hal itu bisa berpengaruh terhadap inflasi. Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Keramik dan Aneka Industri (Asaki) Hendrata Atmoko menambahkan kenaikan harga minyak dunia secara tidak langsung sedikit memberikan pengaruh terhadap kenaikan harga bahan baku untuk industri keramik. "Memang tidak secara langsung karena yang berpengaruh langsung adalah UMR (Upah Minimum Regional) maupun harga gas industri," ujarnya.

Sedangkan untuk harga gas, industri keramik masih harus membayar sekitar USD 9,1 per mmbtu. Harga ini belum mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu. 

(vir/JPK)

Berita Terkait

Rekomendasi