JawaPos Radar

Hingga Maret 2018, Baru Segini Penerimaan Pajak RI

16/04/2018, 21:45 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Hingga Maret 2018, Baru Segini Penerimaan Pajak RI
Menkeu Sri Mulyani sidak di kpp pajak pratama. (Uji Sukma/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Realisasi penerimaan perpajakan hingga Maret 2018 tercatat sebesar Rp 262,4 triliun. Angka tersebut tumbuh 10,3 persen dibanding tahun lalu di periode yang sama atau 16,2 persen dari APBN 2018 atau sebesar Rp 1.424 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, angka tersebut tidak memperhitungkan penerimaan pajak dari program pengampunan pajak atau tax amnesty.

"Jadi kita bersihkan dulu tax amnesty untuk bisa mendapatkan pertumbuhan dari penerimaan pajak dengan tidak terdistorsi tax amnesty," katanya di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (16/4).

Dia merincikan, capaian tersebut terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp 244,5 triliun atau 17,6 persen dari target di APBN 2018. Serta, penerimaan bea dan cukai yang mencapai Rp 17,9 triliun atau 9,2 persen dari target di APBN 2018.

Dari pajak, PPh pasal 21 tumbuh 15,73 persen atau Rp 30,39 triliun, PPh 22 impor naik 25,09 persen atau Rp 13,09 triliun, PPh orang pribadi mencapai Rp 5,35 triliun atau naik 17,61 persen, PPh badan Rp 34,85 triliun atau naik 28,42 persen, PPh 26 mencapai Rp 9,85 triliun atau tumbuh 24,13 persen, PPh final mencapai Rp 26,37 triliun atau tumbuh 13,49 persen, PPn dalam negeri mencapai Rp 55,33 triliun atau tumbuh 13,06 persen, dan PPN impor mencapai Rp 40,71 triliun atau tumbuh 21,56 persen.

Sementara itu dari sektor bea cukai, kenaikannya mencapai 16,2 persen dari target di APBN 2018 dibanding tahun sebelumnya yang -7,8 persen. Tahun lalu, penerimaan bea dan cukai sekitar Rp15,4 triliun, dan tahun ini sekitar Rp17,89 triliun.

Mantan Direktur Pelakasana Bank Dunia itu menjelaskan, penerimaan tersebut ditopang oleh Pajak Penghasilan (PPh) nonmigas yang mencapai 8,36 persen dari target di APBN 2018 atau tumbuh 15,03 persen dengan memperhitungkan program tax amnesty.

"Apabila faktor tax amnesty kita hilangkan, kita akan bisa melihat pertumbuhan apple to apple. Jadi kalau dilihat seluruh indikator, penerimaan negara kita pertama ijon sudah hilang, tax amnesty sudah mulai kita hilangkan pengaruhnya, dan kita mulai berhubungan dengan baseline yang sama, dan menunjukkan adanya momentum recovery dari kegiatan ekonomi. Ini yang kita mencoba terus jaga," tutupnya.

(hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up