Efek Ketegangan Timur Tengah, Kondisi Harga Minyak Dunia Terganggu

16/04/2018, 11:26 WIB | Editor: Ilham Safutra
Ilustrasi: penambangan minyak di laut lepas (Pixabay.com)
Share this image

JawaPos.com - Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah turut berdampak terhadap kenaikan harga minyak dunia. Per 13 April 2018 index harga minyak AS West Texas Intermediate menyentuh level USD 67,39 per barel. Level tertinggi sejak Desember 2014. Sedangkan indeks harga minyak internasional Brent telah mencapai USD 72,58 per barel.

Pada 2014 harga minyak dunia masih berada pada level USD 96,29 per barel. Harga rata-rata minyak dunia pun anjlok menjadi USD 49,49 per barel pada 2015. Kemudian pada Desember 2016 indeks harga minyak berada pada level USD 51,08 per barel. Mulai kembali pulih pada 2017 dengan rata-rata harga minyak dunia menjadi USD 52,51 per barel.

Pada awal 2018 pun indeks harga minyak dunia melonjak di level USD 65,17 per barel. Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pun pada Maret 2018 naik tipis sebesar USD 0,26 per barel menjadi USD 61,87 per barel. Pada bulan Februari lalu ICP mencapai USD 61,61 per barel. Menurun dibandingkan ICP Januari sebesar USD 65,59 per barel. Kenaikan ICP disebabkan oleh meningkatnya permintaan minyak mentah di pasar internasional.

Ilustrasi: kebutuhan minyak di dunia terus meningkat, tapi harganya mengalami lonjakan cukup tinggi. ()

Serta meningkatnya ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah. Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan kenaikan harga minyak dunia saat ini hanya siklus sementara akibat ketegangan di Timur Tengah.

"Itu dampaknya biasanya sementara. Biasanya hitungan bulan," ujarnya. Pihaknya memprediksi rata-rata harga minyak hingga akhir tahun berada pada level USD 65 sampai USD 70 per barel.

The Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) juga melaporkan ada tambahan permintaan minyak dunia sebesar 1,6 juta barel per hari pada 2018. Sehingga diprediksi permintaan minyak mentah rata-rata menjadi 98,63 juta barel per hari. Sedangkan stok distillate fuel oil Amerika Serikat bulan Maret 2018 mengalami penurunan sebesar 9 juta barel. Stok gasoline turun sebesar 12,2 juta barel dibanding bulan Februari. 

(vir/JPK)

Berita Terkait

Rekomendasi