alexametrics

Wejangan Jokowi untuk Pimpinan Perbankan, Proaktiflah Membantu

16 Maret 2018, 16:28:49 WIB

JawaPos.com – Akselerasi kredit pada 2017 benar-benar tak sesuai dengan harapan. Dari target yang dicanangkan tumbuh 12 persen, ternyata hanya terjadi kenaikan 8,23 persen. Padahal, kredit perbankan menjadi salah satu tumpuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai, rendahnya pertumbuhan kredit itu disebabkan kebijakan main aman yang diambil perbankan. Akibatnya, dalam penyaluran kredit, perbankan cenderung menghindari risiko.

Dia memahami, dalam mengambil kebijakan, perbankan harus mengedepankan aspek kehati-hatian. Namun, tidak berarti tidak berani mengambil risiko. Menurut Jokowi, sikap main aman itu justru bisa membahayakan keberlangsungan perbankan.

Wejangan Jokowi untuk Pimpinan Perbankan, Proaktiflah Membantu
Kartu kredit salah satu media penyaluran pinjaman bagi perbankan. (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

“Kalau kita tidak berani mengambil risiko, ya selesai sudah. Dalam bisnis pasti akan mati. Atau mungkin matinya akan pelan-pelan, tapi juga mati,” ujarnya di hadapan pimpinan bank di Istana Negara, Jakarta, kemarin (15/3).

Sebesar apa pun risiko, lanjut dia, potensi untuk berhasil masih terbuka selama dihitung secara cermat. Namun, jika mempertahankan status quo, cepat atau lambat pasti akan runtuh. “Yang ingin saya tekankan di sini adalah yang namanya main aman itu sebuah ilusi,” imbuhnya.

Apalagi, ekonomi Indonesia sedang berada dalam momen yang baik. Mulai pertumbuhan ekonomi yang trennya positif hingga tingkat kemudahan investasi yang terus menanjak dari tahun ke tahun. Di sisi lain, pelaku startup, pengusaha pariwista, dan lifestyle juga meningkat.

“Di situ ada peluang sangat besar dalam menyalurkan pada usaha-usaha kecil, usaha-usaha menengah, yang semakin bergeser ke platform-platform digital. Menurut saya, perbankan harus lebih proaktif membantu,” kata mantan wali kota Solo itu. Apalagi, modal perbankan Indonesia sangat kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) yang mencapai 23,36 persen.

Padahal, CAR di negara-negara maju saja rata-rata hanya 12-15 persen. Selain itu, excess reserves perbankan Indonesia mencapai Rp 626 triliun. “Ini berarti perbankan kita sangat likuid. Tapi, mohon maaf, saya pengin tahu, apakah perbankan kita ini terlalu aman dengan angka sebesar itu?” tanya Jokowi.

Dia mengingatkan, saat ini dunia perbankan sudah memasuki globalisasi. Di Indonesia, misalnya, banyak bank internasional yang menancapkan kaki di banyak kota. Karena itu, dia meminta bank-bank di Indonesia untuk meningkatkan inovasi.

Jokowi mencontohkan perusahaan Tiongkok Alibaba yang pada 2013 meluncurkan Yue Bao. Awalnya, bank-bank konvensional di Tiongkok memandang sebelah mata. Namun, dalam perjalanannya, Yue Bao melejit dan menjadi lembaga keuangan besar yang mengelola dana hingga USD 160 miliar. “Melampaui JP Morgan yang mengelola USD 150 miliar. Kalah,” ujarnya.

Dia berharap perbankan Indonesia bisa keluar dari zona nyaman sehingga mencapai pertumbuhan kredit sesuai dengan target 12 persen.

Ketua Dewan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menambahkan, dunia perbankan harus memanfaatkan momentum bagusnya kondisi ekonomi Indonesia. “Inflasi rendah, harga komoditas ekonomi naik. Momentum jangan sampai hilang,” tegasnya.

Dia memprediksi, kredit perbankan akan tumbuh setelah kuartal pertama atau pada Mei mendatang. Namun, pemerintah berharap pertumbuhan bisa berjalan lebih cepat. “Supaya lebih cepat ekonomi tumbuh.”

Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Suprajarto menyatakan, rendahnya pertumbuhan kredit merupakan dampak perlambatan ekonomi yang melanda Indonesia pada 2013-2014. Saat itu kredit bermasalah (NPL) cukup tinggi. Imbasnya, pada periode tahun-tahun selanjutnya, bank perlu melakukan restrukturisasi dan write-off untuk menyelesaikan sisa-sisa kredit bermasalah.

Pada 2018, dia optimistis menjadi periode pertumbuhan. “Jadi, memang saya rasa pas kalau saat ini presiden meminta bank lebih agresif,” ujarnya.

Mengenai sektor yang potensial untuk diguyur kredit, Suprajarto menilai semua sudah bisa masuk menyusul membaiknya situasi ekonomi. “Manufaktur juga sudah menggeliat, sepatu, komponen mobil sudah naik. Properti juga sudah naik juga,” ungkapnya.

Di sisi lain, banyak pengembang yang juga membangun proyek baru. Dia juga optimistis pertumbuhan kredit pinjaman bisa memenuhi target 12 persen.

Kredit Nganggur Rp 1.400 T

Pengamat ekonomi Indef Bhima Yudhistira menuturkan, rendahnya pertumbuhan kredit bukan sepenuhnya kesalahan pihak bank. Dia menguraikan, perbankan biasanya bersifat procyclical. Artinya, ketika siklus ekonomi menurun, penyaluran kredit juga pasti rendah.

Di sisi lain, bank harus memperhatikan risiko alias NPL yang ada. Karena itu, Bhima menyatakan, bank tidak mencari aman terkait dengan rendahnya pertumbuhan kredit saat ini. “Tidak mungkin bank jor-joran memberi kredit ketika sektor riilnya hanya tumbuh 5 persen,” jelasnya ketika dihubungi kemarin.

Dia melanjutkan, saat ini jumlah kredit yang tidak tersalurkan atau undisbursed loan lebih dari Rp 1.400 triliun. Hal tersebut lebih disebabkan masih lemahnya demand untuk kredit baru dari pelaku usaha. Sebab, mereka melihat pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang stagnan di angka 4,9 persen.

“Indeks penjualan riil Januari kemarin justru anjlok 1,8 persen. Pembelian durable goods atau barang tahan lama seperti perlengkapan rumah tangga menurun. Jadi, pelaku usaha tidak berani mengambil kredit baru.”

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani menyatakan, pelaku usaha memang cenderung mengerem dan tidak memaksimalkan fasilitas kredit bank karena pasar dan demand yang kurang menjanjikan. “Pelaku usaha mengerem, khususnya untuk perusahaan-perusahaan besar. Mereka cenderung konservatif. Cari peluang market yang bagus,” jelasnya tadi malam.

Di sisi lain, Hariyadi menilai perbankan sama konservatifnya dengan pengusaha. Perbankan cenderung berhati-hati dan selektif dalam menyalurkan kredit kepada pelaku usaha. “Karena kondisi pasar memang belum mantap, jadi dua-duanya berhati-hati. Jangan sampai nekat ekspansi, tapi demand-nya nggak ada,” tegasnya.

Mengenai aspek perizinan dan regulasi usaha, dia tak melihat hal tersebut berdampak secara langsung pada perlambatan kredit usaha. “Tapi, dampaknya lebih pada delay dan memperlambat kinerja pengusaha,” bebernya.

Soal rendahnya konsumsi listrik masyarakat, pengusaha sependapat bahwa hal tersebut dipengaruhi rendahnya aktivitas ekonomi. “Saya melihatnya lebih seperti itu. Saat ini di beberapa negara seperti Eropa, konsumsi listrik juga sedang turun. Tapi, itu karena mereka sedang gencar energy saving. Kalau di kita, rasanya saya masih melihat ada perlambatan di pertumbuhan ekonominya,” ungkap Hariyadi. 

Editor : Fersita Felicia Facette

Reporter : (far/ken/rin/agf/c5/oki)


Close Ads
Wejangan Jokowi untuk Pimpinan Perbankan, Proaktiflah Membantu