alexametrics

Tarif Cukai Rokok Naik, Cukai Anggur dan Miras Dalam Proses Pembahasan

15 Desember 2021, 09:37:06 WIB

JawaPos.com – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menetapkan kebijakan tarif cukai hasil tembakau atau CHT untuk tahun 2022 dengan kenaikan rata-rata 12 persen. Kebijakan tersebut ditetapkan usai rapat terbatas Bersama Presiden Joko Widodo, Senin (13/12) lalu.

Selain tarif cukai hasil tembakau, pemerintah saat inis emang membahas terkait tarif cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA). Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Pande Putu Oka mengatakan, kebijakan untuk golongan ini masih dalam proses pembahasan dengan stakeholders terkait.

“Jadi tarif cukai MMEA ini masih dalam proses pembahasan dengan stakeholders terkait,” ujarnya dalam keterangannya, Rabu (15/12).

Adapun cukai MMEA memiliki tiga golongan. Golongan A atau dikenal dengan bir, Golongan B atau dikenal dengan anggur, dan Golongan C yang dikenal dengan miras. Tarif cukai ketiganya bisa disesuaikan, apalagi golongan B dan C belum pernah mengalami kenaikan. Golongan A sendiri telah terjadi penyesuaian tarif di 2019.

Sebagai informasi, tarif cukai MMEA telah terjadi penyesuaian pada 2019 yang lalu. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 158/2018 tentang tarif cukai etil alkohol, minuman yang mengandung etil alkohol, dan konsentrat yang mengandung etil alcohol, telah melakukan penyesuaian untuk tarif cukai MMEA Golongan A.

Dalam beleid tersebut, kenaikan tarif diberikan untuk MMEA Golongan A dengan kadar etil alkohol sampai 5 persen, dari Rp 13.000 per liter menjadi Rp 15.000 per liter.

Sedangkan, tarif cukai untuk MMEA Golongan B dan C tidak pernah mengalami penyesuaian sejak 2013 lalu, meskipun data dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menunjukkan, selama tahun 2013-2019, pertumbuhan rata-rata MMEA Golongan B dan C tumbuh hingga dua digit. Secara CAGR selama enam tahun tersebut, volume Golongan B dan golongan C domestik tumbuh masing-masing 10,8 persen dan 19,4 persen.

Bahkan, di tahun 2020, volume Golongan B Domestik mampu mencatat kenaikan 2 persen ketika volume Golongan lain terdampak pandemi Covid-19 dan turun signifikan. Misalnya seperti volume Golongan A domestik yang turun tajam hingga 41 persen.

Ekonom CORE Indonesia Piter Abdullah mengatakan, jika ingin menaikkan penerimaan negara dari cukai minuman keras, maka perlu dinaikan juga di semua golongan minuman keras.

“Sesuai prinsip cukai sebagai instrumen pengendalian dampak ekternalitas negatif, hendaknya penyesuaian tarif ini diikui upaya untuk mengurangi konsumsi. Jangan sampai menaikkan cukai hanya untuk menaikkan penerimaan, itu berarti sudah berubah dari tujuan dari cukai,” pungkasnya.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Romys Binekasri

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads