JawaPos Radar

Penuhi Pasokan Pakan Ternak, Kementan Diminta Cermati Produksi Jagung

15/08/2018, 09:57 WIB | Editor: Mochamad Nur
Penuhi Pasokan Pakan Ternak, Kementan Diminta Cermati Produksi Jagung
Ilustrasi produksi Jagung Petani, salah satu komoditas bahan baku pakan ternak (Dok.JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kementerian Pertanian (Kementan) diminta lebih cermat dalam kemampuan produksi sejumlah komoditas, salah satunya jagung. Data ekspor-impor kepabeanan mencatat tingginya impor dibanding ekspor yang diklaim sebagai bukti sudah swasembadanya jagung di dalam negeri. Impor jagung berdasar data Bea dan Cukai mencapai 330,8 juta Kg pada periode Januari-Juli 2018.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengingatkan pasokan dalam negeri harus dipastikan cukup terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menutup keran impor. Langkah itu sangat penting guna mencegah kekurangan pasokan di dalam negeri, yang berujung pada kenaikan harga yang membebani rakyat.

"Impor jagung masih dibutuhkan, khususnya untuk suplai ke pakan ternak ayam. Sekarang, ketika impor jagungnya dibatasi, akhirnya peternak mencari pakan dari gandum yang berasal dari impor. Sementara jagung lokal harganya lebih mahal," kata Bhima, Selasa (14/8).

Ia juga menyoroti data impor. Ia menilai kesimpangsiuran data pangan memang menjadi persoalan pemerintah."Soal data harusnya cuma BPS yang berhak keluarkan data pangan baik pasokan dan kebutuhan pangan," kata dia.

Data ekspor-impor kepabeanan mencatat Indonesia ternyata tetap mengimpor jagung. Tercatat ada sebanyak 330,8 juta kg jagung yang diimpor sepanjang Januari-Juli 2018. Selain itu, Indonesia juga mengimpor bibit jagung sebanyak 227,3 ribu kg diperiode yang sama.

Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) yang mengolah data dari FAO, menyebutkan hingga 2017 produksi jagung masih defisit sebesar 2,3 juta ton dibandingkan kebutuhan. Pasalnya, produksi jagung di tahun lalu hanya terpatok di angka 20 ton. Sementara itu, kebutuhan konsumsi dan industri mencapai 23,3 juta ton.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total impor jagung selain benih dan berondong pada 2017 di sepanjang tahun tercatat sebesar 508,29 ribu ton.

Tak hanya untuk pakan ternak, kebutuhan jagung untuk bahan baku industri makanan dan minuman (mamin) nyatanya hingga kini masih harus didatangkan dari mancanegara. Pasalnya, jagung jenis dent corn yang memiliki kadar tepung tinggi belum diproduksi di dalam negeri.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri (Daglu) Kemendag Oke Nurwan menyatakan bahwa hingga Semester II-2018 pihaknya telah menerbitkan Surat Pemberitahuan Impor (SPI) jagung industri dengan total alokasi 479.860 ton untuk memenuhi kebutuhan 5 industri mamin.

Setelah dimoratorium di sepanjang 2017 kemarin, impor untuk jagung kembali diizinkan, namun dengan syarat untuk jagung pakan. Impor jagung untuk pangan hanya dapat dilakukan oleh Bulog dan perusahaan pemilik API-P. Sedangkan, impor Jagung untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku industri hanya dapat dilakukan oleh perusahaan pemilik API-P.

Ketua Dewan Jagung Maxdeyul Sola mengakui saat ini produksi jagung Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan industri pangan yang membutuhkan jagung jenis dent corn. Alhasil, impor untuk jenis jagung ini tidak bisa dihindari. Ketidakcocokan produksi dengan kebutuhan industri pangan ini disebabkan kandungan alfatoksin produksi jagung nusantara yang kerap di melebih batas kebutuhan industri pangan sebesar 20 ppg.

“Jadi kita baru bisa menanam, tapi tidak bisa mengamankan produksi yang dihasilkan masyarakat,” ucapnya.

Menurut Max, industri mamin sepakat untuk membantu pengembangan jagung jenis dent corn sambil menunggu kebijakan larangan impor nantinya. “Soalnya Dewan Jagung akan mengajukan, kalau memang sudah ada produksi dalam negeri, kita akan ajukan setop impor,” tukasnya.

(nas/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up