JawaPos Radar

Industri Properti Waspadai Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

15/08/2018, 18:43 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Bisnis Properti
ILUSTRASI: Gejolak nilai tukar rupiah disebut mulai diwaspadai para pelaku industri properti di Tanah Air. (Dite Surendra/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Gejolak nilai tukar rupiah disebut mulai diwaspadai para pelaku industri properti di Tanah Air. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berlarut-larut dikhawatirkan membuat pengembang kolaps.

Wakil Ketua Bidang Promosi, Humas dan Publikasi Dewan Pengurus Daerah Real Estat Indonesia (DPD-REI) Jawa Tengah, Dibya K Hidayat mengatakan, kenaikan dolar yang terus-menerus seperti ini wajib diwaspadai. Lantaran bisa berimbas pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

"Melemahnya nilai rupiah itu yang perlu diwaspadai. Rupiah yang tidak stabil akan berdampak pada BI Rate yang beranjak naik, sehingga berimbas ke KPR. Dan ini tentunya tidak mendukung penjualan perumahan," kata Dibya, Rabu (15/8).

Seperti diketahui, kurs dolar AS terhadap rupiah terus menguat. Hingga kini, rupiah berada pada kisaran Rp 14.615 per dolar AS. Angka itu merupakan level tertinggi sejak tiga tahun terakhir.

Dirinya menambahkan bahwa naiknya nilai dolar ini juga memberi pengaruh besar terhadap meningkatnya harga bahan bangunan. Utamanya bahan impor atau yang didapat dari luar negeri, seperti besi-besi bangunan.

Belum selesai sampai di situ, menurutnya, penjualan properti saat ini disebutnya juga mulai lesu. Penyebab utamanya adalah suhu perpolitikan Indonesia yang mulai memanas menjelang pemilihan legislatif serta presiden 2019.

"Cuaca properti memang sedang tidak bagus. Namun ini kelihatannya di semua sektor bisnis dan sektor jenis usaha. Apalagi menyangkut sedikit perekonomian kita terpegaruh suhu politik," jelasnya lagi.

Kondisi ini, lanjutnya, sebelas dua belas dengan yang terjadi pada 2014 lalu. Di mana pada saat itu, Indonesia tengah memasuki tahun-tahun politik yang kemudian berimbas pada penurunan penjualan properti secara drastis. 

"Tapi waktu itu penjualan properti naik lagi di tahun 2015," ujarnya. Ia pun berharap agar kondisi poltik tahun ini ke depannya bisa berjalan kondusif agar yang dikhawatirkan pada industri properti tidak benar-benar terjadi.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up