Arcandra: Sumber Energi Batu Bara Semakin Ditinggalkan

15/03/2018, 17:56 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Ilustrasi sumber energi baru dan terbarukan, energi cahaya matahari (Dok. JawaPos.Com)
Share this

JawaPos.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan porsi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dalam bauran energi pembangkitan tenaga listrik tahun 2025 mencapai 23%. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menegaskan,  energi fosil akan digantikan oleh sumber energi nonfosil, energi terbarukan serta tenaga nuklir.

"Energi terbarukan menjadi sumber energi yang tumbuh paling cepat di dunia.  Konsumsinya meningkat rata-rata 2,3% per tahun antara tahun 2015, Indonesia bertekad meningkatkan bauran energinya menjadi 23 persen pada tahun 2025", ungkap Arcandra di Jakarta, Kamis (15/3).

Arcandra memaparkan data yang bersumber dari International Energy Outlook 2017, sejak tahun 2000an sampai saat ini, konsumsi energi fosil tidak mengalami peningkatan signifikan. Justru semakin lama berpotensi digantikan oleh sumber energi nonfosil lainnya misalnya gas bumi, energi terbarukan serta tenaga nuklir (khsususnya di Tiongkok) untuk pembangkit tenaga listrik. “Sebagai ilustrasi, China negara yang selama ini konsumsi batubaranya terbesar di dunia, namun penggunaan batubara diproyeksikan akan menurun sebesar 0,6%  per tahun dari tahun 2015 sampai 2040”, jelas Arcandra.

Sejauh ini sumber pengembangan EBT energi matahari dan angin masih lebih dominan dibandingkan EBT lain. Pada tahun 2016 EBT tersebut menyumbang sekitar USD 226 miliar di seluruh dunia, atau sekitar 90 persen dari investasi di sektor EBT. Sayangnya, pengembangan investasi energi terbarukan masih didominasi negara-negara maju dibandingkan negara berkembang. 

Arcandra juga menjelaskan sebagai negara berkembang, Indonesia terus menelurkan kebijakan pendukung iklim investasi di sektor ESDM. Serta memprioritaskan penggunaan sumber daya EBT.  Sehingga diharapkan dapat memenuhi target bauran energi serta mengurangi emisi gas rumah kaca. Langkah ini telah menjadi komitmen bersama dalam Konferensi COP 21 di Paris pada tahun 2015. “Indonesia bertekad untuk meningkatkan bauran energinya menjadi 23 persen pada tahun 2025. Sampai tahun 2017, porsi EBT dalam bauran energi masih 8,43 persen, ada celah sekitar 15 persen. Kesenjangan ini harus diisi melalui reformasi kebijakan untuk memberdayakan lebih banyak EBT dalam skala ekonomi dan harga yang terjangkau”, pungkasnya.

Awal pekan ini, Kementerian ESDM telah menyetujui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) tahun 2018 – 2027.  Di dalamnya telah mengakomodasi pemanfaatan EBT dalam perencanaan pembangunan pembangkit tenaga listrik.  Di dalamnya porsi EBT auran energi pembangkitan tenaga listrik tahun 2025 mencapai 23 persen. Lebih tinggi daripada porsi EBT pada RUPTL PLN 2017-2026 sebesar 22,6 persen.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi