alexametrics

Jual Beli Saham ”Gorengan” Sesama BUMN

15 Januari 2020, 16:31:20 WIB

JawaPos.com – Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menyatakan, sejak awal Jiwasraya sudah secara sengaja bermain-main dengan saham gorengan yang memiliki tingkat volatilitas tinggi. Tidak heran jika perseroan berinvestasi pada saham-saham berkinerja buruk. Antara lain saham PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP). Perusahaan tersebut menjual ikan arwana.

Selain itu, Jiwasraya membeli saham PT Semen Baturaja.

Seperti IIKP, kinerja saham emiten perusahaan pelat merah tersebut juga buruk. Sepanjang 2019, nilai saham perusahaan anjlok –74,85 persen. Ada pula investasi pada perusahaan BUMN PT PP Properti yang juga kinerjanya buruk di tahun lalu: sahamnya terpuruk hingga –41,28 persen. ”Investasi pada saham ’gorengan’ ini ada unsur kesengajaan. Berbeda kalau investasi ke saham-saham yang bagus, lantas rugi. Ini sudah kelihatan dari awal kalau investasinya ke saham-saham jelek,” paparnya saat dihubungi kemarin.

Prastowo mengungkapkan, jual beli saham ’gorengan’ tersebut berputar di antara perusahaan-perusahaan pelat merah itu sendiri. Tujuannya ialah memoles laporan keuangan sehingga terlihat bahwa nilai return saham yang dimiliki perusahaan cukup tinggi. Itu yang dinamakan window dressing.

”Meski return-nya tinggi, tapi tidak bisa dicairkan. Cuma dicatat di buku (laporan keuangan, Red), seolah-olah saham naik. Sehingga diakui di akhir tahun ada potensi pendapatan yang cukup besar. Padahal, nggak ada duit masuk,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Prastowo, perseroan ”memanipulasi” dengan melakukan revaluasi aset tanah dan bangunan, yang kemudian dicatat dalam laporan keuangan. Dengan begitu, yang tecermin dalam laporan keuangan adalah ekuitas Jiwasraya yang sempat negatif menjadi surplus. Selain itu, nilai revaluasi asetnya tampaknya dinaikkan cukup tinggi.

”Tapi, karena itu revaluasi aset tanah dan bangunan, ya tetap saja tidak ada cash flow. Karena tujuan revaluasi hanya untuk mencerminkan berapa nilai aset sekarang. Revaluasinya pun tampaknya tidak menggunakan appraisal yang benar,” urai dia.

Prastowo menegaskan, sudah jelas ada modus fraud sejak awal. Sebab, ada unsur kesengajaan berinvestasi pada saham berkinerja buruk. Selain itu, sebagai perusahaan BUMN, Jiwasraya dinilai telah merugikan negara. ”Sudah jelas ini fraud. Sebenarnya direksinya cerdas, tapi dipakai untuk tujuan keliru sehingga bisa menipu banyak orang. Ini harus ditelusuri siapa aktor utamanya dan dananya lari ke mana,” tegasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : ken/c9/oni


Close Ads