Pentingnya Manajemen Devisa

Oleh ENNY SRI HARTATI*

14/08/2018, 20:05 WIB | Editor: Ilham Safutra
Lira melemah terhadap Dolar AS (Toni Suhartono/Indopos)
Share this image

JawaPos.com - Jika kita tinjau dalam beberapa bulan ini, depresiasi lira bermula dari kesalahan komunikasi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Dia dinilai terlalu mengintervensi pasar. Sejumlah kebijakan Erdogan sebenarnya ditujukan untuk pengendalian nilai tukar lira. Namun, karena tidak dikomunikasikan dengan baik terhadap lembaga-lembaga internasional, justru memengaruhi rating Turki. Maka, jatuhlah stigma negatif terhadap pasar keuangan Turki sehingga mengurangi minat investor.

Itulah yang menurut saya harus kita ambil pelajaran. Kami, Indef, termasuk yang merekomendasikan pemerintah harus segera melakukan manajemen devisa. Manajemen devisa bisa dilakukan tanpa harus terlalu mengintervensi pasar. Me-manage devisa, misalnya, melalui devisa hasil ekspor yang masuk secara natural.

Strategi itu bisa dilakukan jika melihat struktur ekspor kita. Indonesia memiliki ekspor yang cukup kuat di sektor komoditas. Ekspor komoditas tidak butuh banyak impor bahan baku sehingga konsekuensinya sektor itu harus bisa membawa pulang USD. Hal tersebut bisa terjadi kalau pemerintah benar-benar melakukan reformasi di dalam sektor transaksi ekspor-impor dan kepabeanan.

Ketika kepabeanan ini birokrasinya tidak "njelimet", yang melakukan ekspor itu bisa langsung produsen tanpa melalui trader. Misalnya, produsen tambang batu bara, produsen perkebunan, atau produsen perikanan. Mereka langsung ekspor tanpa melalui trader sehingga USD yang diterima langsung mereka bawa masuk ke dalam negeri.

Berbeda ketika segala urusan yang terkait dengan ekspor-impor, ini memusingkan. Pelaku usaha akan melakukan ekspor lewat trader. Kalau begitu, sudah pasti mereka tidak akan membawa USD masuk. Kenapa? Sebab, selain ekspor, dia akan impor kembali. Penerimaan ekspor mereka, 90 persen mereka pakai lagi untuk pembiayaan impor. Ini mungkin adalah contoh yang utuh dari manajemen devisa.

Upaya pemerintah untuk mencanangkan perizinan satu pintu memang baik, seperti melalui Indonesia National Single Window (INSW) atau yang terbaru Online Single Submission (OSS). Semangatnya adalah menyederhankan perizinan supaya tidak ada otoritas tertentu di suatu lembaga.

Kembali ke soal pelemahan lira, apakah depresiasi tersebut akan berpengaruh pada perdagangan Turki dan Indonesia? Pengaruh pasti ada, tapi seberapa besar mungkin tidak signifikan. Sebab, perdagangan Indonesia dengan Turki juga tidak terlalu besar. Lira juga tidak berhadapan langsung dengan rupiah, melainkan USD. Namun, yang patut diwaspadai adalah bahwa pelemahan lira juga akan melemahkan perekonomian Turki. Jika ekonomi mereka kurang baik, permintaan mereka pada pasar global, termasuk kepada Indonesia, berpotensi merosot.

Atau jika Turki memiliki ketergantungan dengan mitra dagang strategis Indonesia seperti Tiongkok dan Jepang. Kalau impor Turki turun terhadap mitra kita, itu juga bisa berpotensi berimbas pada perdangan mitra dengan Indonesia. Perdagangan global akan bekerja seperti itu.

Lantas, opportunity apa yang bisa kita maksimalkan dari kondisi itu? Turki banyak mengandalkan ekspor dari barang industri. Mereka bisa saja memanfaatkan depresiasi nilai tukar dengan menggenjot ekspor. Barang dari Turki yang masuk ke Indonesia bisa menjadi lebih kompetitif.

Indonesia harus bisa segera me-mapping produk apa saja yang dimiliki Turki, apa saja yang bisa diambil sebagai produk substitusi dari negara-negara utama. Atau sebaliknya, me-mapping apa saja kebutuhan Turki supaya kita memiliki rencana B untuk ekspor kita. Hal itu bisa menambah bargaining position Indonesia di mata perdagangan global. Membaca dan memaksimalkan peluang itu memang butuh kecerdasan. Dan biasanya Indonesia lemah. 

*) Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef)

(Disarikan dari wawancara oleh Agfi Sagittian/c10/agm)

Berita Terkait

Rekomendasi