alexametrics

Jurus Pemerintah Mitigasi Perekonomian dari Serangan Virus Korona

14 Februari 2020, 16:35:27 WIB

JawaPos.com – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut, perekonomian Indonesia tetap stabil di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global akibat wabah virus korona. Meskipun demikian, dampak wabah virus korona tetap harus diantisipasi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Nufransa Wira Sakti mengatakan, wabah virus korona berdampak terhadap perekonomian banyak negara. Apalagi Tiongkok sebagai sumber penyebaran virus. Beberapa institusi melihat, jika penyebarannya berlangsung cukup lama, maka pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan mengalami perlambatan.

“Tekanan ekonomi Tiongkok berpotensi memberi efek limpasan ke negara-negara mitra termasuk Indonesia melalui beberapa transmisi seperti sektor pariwisata, perdagangan internasional, dan aliran investasi,” ujarnya dalam keterangannya, Jumat (14/2).

Akan tetapi, lanjutnya, dampak perlambatan ekonomi Tiongkok ke Indonesia tak akan sebesar ke negara-negara lain. Sebut saja Thailand, Malaysia, Vietnam, atau Singapura yang punya hubungan lebih dengan ekonomi Tiongkok.

Dia menyebut, dampak paling terasa adalah berkurangnya pergerakan arus orang dari Tiongkok ke Indonesia. Hal ini terlihat pasca diberlakukannya larangan penerbangan dari dan menuju Tiongkok.

“Pergerakan penumpang masuk asal Tiongkok mencapai puncak pada 25 Januari 2020 dan mengalami penurunan drastis hingga saat ini jumlah penumpang Tiongkok mencapai lebih dari 500 orang,” tuturnya.

Sementara itu pada arus pergerakan barang, dampak virus korona pada awal tahun belum terlalu terasa, karena ada faktor lain. Salah satunya, Hari Raya Imlek.

Plt. Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Arif Baharudin melanjutkan, guna mengantisipasi dampak wabah virus korona, pemerintah akan mendorong konsumsi pada kuartal I. Pemerintah akan mempercepat realisasi belanja Kementerian/Lembaga, terutama belanja bantuan sosial (bansos) seperti PKH dan kesehatan, serta belanja nonoperasional.

“Kemudian, mendorong pusat-pusat pariwisata melalui berbagai program pendukung, seperti percepatan pembangunan lima destinasi pariwisata super prioritas, antara lain Danau Toba, Borobudur, Likupang, Labuan Bajo, dan Mandalika,” imbuh Arif.

Pemerintah juga akan menyiapkan kebijakan fiskal dan nonfiskal untuk menstimulasi sektor pariwisata. Langkahnya yakni dengan mempercepat belanja padat karya untuk kegiatan produktif yang menyerap banyak tenaga kerja.

Misalnya, belanja infrastruktur di pusat dan daerah. Terakhir, pemerintah akan mempercepat penajaman program Kredit Usaha Rakyat (KUR), termasuk perluasan sasaran.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Romys Binekasri


Close Ads