alexametrics

Kronologi Dana Jiwasraya Nyangkut di Perusahaan Penangkaran Arwana

14 Januari 2020, 19:00:40 WIB

JawaPos.com – Permasalahan di tubuh PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sudah terjadi sejak bertahun-tahun lalu. Terdapat kejanggalan dalam laporan keuangannya hingga terjadi gagal bayar pemegang polis.

Pengamat perpajakan Yustinus Prastowo mengatakan, sejak 2006 telah mencium adanya aksi perseroan dalam merekayasa laporan keuangannya atau window dressing. Yustinus menyayangkan, kejanggalan ini tidak tercium oleh otoritas terkait.

“2006 sudah ada rekayasa akuntansi kok tidak terdeteksi? Itu window dressing,” katanya Senin (13/1) petang.

Kemudian, lanjutnya, pada 2012 Jiwasraya keluar dari bisnis utamanya dan mulai merambah bisnis investasi dengan mengeluarkan produk JS Saving Plan. Tidak seperti unit link yang risikonya dibebankan pada pemegang polis, produk ini risikonya ditanggung perusahaan asuransi.

Sehingga, banyak masyarakat yang tergoda memilih produk tersebut. Apalagi, program tersebut menawarkan keuntungan dua kali lipat lebih tinggi dari deposito.

“Produk ini dijual melalui banyak bank, yang paling besar Standard Chartered. Lalu kenapa banyak orang Korea jadi korban, karena ditawarkan juga lewat Bank KEB Hana,” tuturnya.

Menurutnya, kesalahan manajemen adalah tidak memasukkan dana cadangan teknis. Seharusnya, dalam industri asuransi setiap pendapatan premi yang masuk harus disediakan cadangan teknis untuk mencegah kerugian akibat gagal bayar.

Yustinus menambahkan, dengan adanya kewajiban pembayaran polis yang besar, maka manajemen pun harus menempatkan dana pada instrumen investasi yang memberikan keuntungan besar pula. Sayangnya, keputusan investasi manajemen kala itu terjebak pada saham gorengan.

“Dia cari instrumen yang seolah-olah menunjukkan kinerjanya bagus makanya investasi di saham gorengan,” ucapnya.

Kemudian, pada 2015 Jiwasraya melakukan pembelian investasi reksadana saham sebesar Rp 6 triliun di PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP) dengan porsi 90 persen. Padahal perusahaan tersebut hanya memiliki aset sebesar Rp 300 miliar dengan omzet hanya Rp 21 miliar.

“Penangkaran ikan arwana, tapi bisa menerbitkan reksadana Rp 6 triliun dan profil investasi Jiwasraya 90 persen ada di saham dan reksadana yang berisiko tinggi,” katanya.

Seperti menunggu bom waktu, investasi di saham gorengan semakin menambah beban perusahaan. Portofolio saham Jiwasraya banyak yang runtuh, sehingga pada 2017 perseroan tak mampu membayar kewajiban kepada pemegang polisnya.

“Nasabah investasi di awal return-nya dibayar dari uang premi yang didapat. Jadi yang di depan untungnya gede yang belakangan rugi,” terangnya.

Di samping itu, laporan keuangan perseroan dengan status opini adverse atau dengan modifikasi dari Kantor Akuntan Publik PricewaterhouseCoopers (PwC). Ketua Umum Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) Tarkosunaryo mengungkapkan, Jiwasraya mencatatkan laba Rp 360 miliar.

Opini yang dikeluarkan oleh akuntan publik yaitu, opini dengan modifikasian. Artinya, terdapat hal yang janggal dalam laporan keuangan tersebut.

“Opini tidak wajar karena kekurangan cadangan teknis Rp 7 triliun. Jadi laba Rp 360 miliar yang disampaikan direksi adalah tidak tepat,” imbuhnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Romys Binekasri


Close Ads