JawaPos Radar

Indonesia Akan Jadi Penghasil Panas Bumi Terbesar Kedua di Dunia

13/03/2018, 11:37 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
Indonesia Akan Jadi Penghasil Panas Bumi Terbesar Kedua di Dunia
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga panas bumi (Dok. JawaPos.Com)
Share this image

JawaPos.com - Sejarah perkembangan energi panas bumi di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan panas bumi di Selandia Baru. Berawal pada tahun 1972, Geothermal Energy ltd (GENZL) bekerja sama dengan Pertamina mengembangkan lapangan panas bumi di Kamojang. 

Sekitar 42 tahun kemudian, Indonesia akan menjadi Negara kedua terbesar setelah Amerika Serikat penghasil energi listrik panas bumi. Kapasitas total listrik yang dihasilkan mencapai 2.023,5 MW. Hal tersebut akan dicapai setela PLTP Sibuai-buai (sarula Unit 3, 110 MW), PLTP Lumut Balai (55 MW), PLTP Sorik Marapi Modular (20 MW), Sokoria Unit 1 (5 MW) dan Lahendong Binary (5 MW)  beroperasi.

Dukungan iklim investasi yang bagus, serta penguasaan teknologi dibutuhkan untuk menyokong pertumbuhan dan berkembangan industri panas bumi di Indonesia. Selain itu, sumberdaya manusia yang siap juga turut menentukan.

Melalui program pelatihan ini, diharapkan peserta dapat memahami pengelolaan proyek panas bumi. Dari aspek geoscience hingga keuangan proyek. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengirimkan 23 peserta mengikuti Geothermal Project Management. Dilaksanakan tanggal 12 Maret - 11 April 2018 di Auckland, Selandia Baru. 

Program ini merupakan kerja sama Kementerian ESDM melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) dengan MFAT (Ministry of Foreign Affairs and Trade) Selandia Baru. "Memasuki tahun hubungan diplomatik yang ke-60, Pemerintah Selandia Baru memandang Indonesia sebagai partner yang sejajar dengan negara lainnya. Seiring dengan semakin meningkatnya perekonomian Indonesia", ujar Duta Besar Selandia Baru, Trevor Matheson untuk Indonesia dikutip dari website resmi Kementerian ESDM, di Jakarta, Selasa (13/3).

Ia menyampaikan, renewable energy dalam bauran energi di Selandia Baru saat ini sudah mencapai 80%. Menurut target, pada tahun 2025 akan menjadi 100%. Oleh karena itu, Matheson berharap program ini dapat dijadikan sebagai ajang berbagi pengalaman dengan bangsa Indonesia.

Program ini merupakan pelaksanaan tahun ke dua. Sebelumnya, 24 peserta dari Indonesia mengikuti kegiatan Geothermal Project Management pada tahun 2017, dengan biaya full short term training scholarships dari Pemerintah Selandia Baru.

Tahun ini, terpilih 23 orang peserta mengikuti program pelatihan tersebut. Sebanyak 3 orang dari Kementerian ESDM, 1 orang dari Bappenas, 2 orang dari Universitas dan 18 orang dari Badan Usaha sub sektor panas bumi: PT. Geodipa, PT. Pertamina Geothermal Energi, Star Energy, dan Supreme Energy.

(uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up