JawaPos Radar | Iklan Jitu

Data Pasokan Beras Tak Valid, Berdampak Harga Beras Tinggi

12 Oktober 2018, 11:25:59 WIB | Editor: Mohamad Nur Asikin
Data Pasokan Beras Tak Valid, Berdampak Harga Beras Tinggi
Ilustrasi pedagang beras eceran di pasar tradisional (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)
Share this

JawaPos.com - Harga beras periode September 2018 mengalami kenaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan terjadi pada beras kualitas premium, medium, dan rendah. Klaim validitas data terjadi swasembada beras karenanya lagi-lagi menjadi pertanyaan.

Klaim swasembada dan kenaikan harga beras juga disoroti oleh Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto. Seringnya Kementerian Pertanian membuat klaim swasembada terkait berbagai komoditas pertanian, dinilai membingungkan masyarakat.

Pasalnya, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, justru menyiratkan adanya kekurangan dari sisi produksi. Jika terus dibiarkan, kekhawatiran membuat kebijakan dari data yang salah, sangat mungkin terjadi.

Data Pasokan Beras Tak Valid, Berdampak Harga Beras Tinggi
Ilustrasi kantor pusat Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta (Dok.JawaPos.com)

“Berbahaya untuk misleading kebijakan. Jadi kayak impor atau nggak impor. Terus kestabilan harganya juga jadi terganggu. Secara umum ini sangat mengganggu,” tegas Eko.

Menurutnya, kaim swasembada berpotensi membuat terlena, sehingga kerap menghasilkan kebijakan yang tidak tepat. Ia mencontohkan, Kementan menyatakan kebutuhan surplus, sehingga kebijakan impor tidak menjadi pilihan.

Namun di lapangan, produksi pangan yang tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri membuat harga meningkat. Alhasil, kebijakan untuk 'memadamkan kebakaran' kerap jadi pilihan terpaksa. Padahal, suatu kebijakan harus dirancang sedemikian rupa dalam waktu yang cukup.

Mengenai polemik impor beras, Eko berpandangan, harusnya hal ini tidak perlu terjadi karena apa yang diputuskan di rakor harusnya dijalankan oleh seluruh kementerian terkait.

“Saya sendiri sebenarnya nggak setuju sama adanya impor, tapi kalau sudah diputuskan ya harusnya dipenuhi,” tegasnya.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Assyifa Szami Ilman di kesempatan berbeda menyoroti, jumlah produksi beras secara nasional sejatinya tidak dapat dihitung secara pasti. Pasalnya, selain adanya perhitungan konversi dari gabah menjadi beras, terdapat sejumlah faktor lain yang dapat mempengaruhi, seperti kondisi cuaca.

"Menghitung beras itu susah, ditambah lagi ada faktor cuaca. Belum tentu per hektar bisa menghasilkan satu ton padi," ujarnya, saat dihubungi.

"Menurut saya, data Kementan tidak valid, perlu perbaikan kembali sistem estimasi produksi beras. Namanya beras, tidak dapat dihitung secara akurat. Tapi kalau sudah diserap dan masuk gudang Bulog, itu baru pasti," imbuhnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga semua jenis beras periode September 2018 naik di tingkat penggilingan. Kenaikan tersebut terjadi pada beras kualitas premium, medium, dan rendah.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan kenaikan harga beras kualitas premium per September mencapai 1,20 persen dibandingkan bulan sebelumnya. "Rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp 9.572 per kilogram," kata dia di kantornya, Jakarta, Senin (10/1)

(mys/ask/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up