JawaPos Radar

Anak Muda Tak Mau Jadi Petani, Lahan Pertanian Semakin Berkurang

12/10/2018, 11:15 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Anak Muda Tak Mau Jadi Petani, Lahan Pertanian Semakin Berkurang
ilustrasi pedagang beras (Fedrik Tarigan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Kepemilikan lahan sawah memiliki peran penting bagi para petani. Bagi mereka, memiliki lahan menjadi aset berharga dalam mengais pundi-pundi. Seiring berjalannya waktu, kepemilikan lahan ini mulai berkurang. Berbagai faktor membuat para petani harus melepas asetnya itu.

Pengamat pertanian IPB Dwi Andreas Santosa menyebutkan, banyak para petani yang kehilangan lahannya lantaran hasil dari bertani dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Sehingga, menjual lahan menjadi cara terbaik agar kebutuhan dapat dipenuhi.

"Sebagian besar dilepaskan lahannya lalu mereka bekerja di sektor informal dan lain sebagainya," ujarnya kepada JawaPos.com saat dihubungi belum lama ini.

Anak Muda Tak Mau Jadi Petani, Lahan Pertanian Semakin Berkurang
ilustrasi tipe-tipe sawah (Kokoh Praba/JawaPos.com)

Badan Pusat Statistik ( BPS) mencatat sensus pertanian 2013, sekitar 56,03 persen petani Indonesia merupakan petani gurem yang penguasaan lahannya kurang dari 0,50 hektare. Sementara, menurut data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), pada 2013 lalu masih terdapat 7,75 juta hektar lahan sawah.

Namun, setiap tahun terjadi penyusutan antara 150 ribu hingga 200 ribu hektar akibat alih fungsi. Alihfungsi lahan umumnya terjadi karena kian hari kian sulit menjadi petani.

Petani Penggarap Kertawinangun, Indramayu, Abu Tolib mengungkapkan hal senada. Menurutnya, masih banyak para petani yang lahannya kian menyempit lantaran semakin banyaknya pembangunan rumah-rumah. Hal itu dilakukan karena jumlah masyarakat di Indonesia terus bertambah.

"Karena petani itu kebanyakan buruh. Karena lahannya sudah menyempit. Jawa Barat kan ada bonus demografi. Ada juga yang tergusur," tuturnya.

"Jadi contohnya si A punya lahan berapa hektar, anaknya kuliah nggak mau ngurus. Nikah sama orang luar dijual akhirnya. Jadi orang lokalnya kan sewa untuk menggarapnya," sambungnya.

Diakuinya, para buruh tani yang dipekerjakan di lahan orang hanya mendapat bayaran sebesar Rp 60-70 ribu per hari. "Upahnya standar segitu yang mereka terima," ungkapnya.

Sementara itu, Petani Tulungagung, Pur mengungkapkan, petani di kawasannya banyak yang menyewa lahan milik orang. Padahal, sebelumnya banyak juga yang memiliki lahan sendiri. Kebutuhan ekonomi mau tidak mau menjadi pertimbangan utama dalam menjual lahannya.

"Ya pada sewa. Banyak yang sudah dijual karena mereka butuh uang, entah untuk biaya pendidikan atau untuk modal panen lainnya," kata Pur.

Dia menegaskan, untuk para petani yang dipekerjakan di lahannya diberikan bayaran sekitar Rp 70-80 ribu per hari. Selain itu, ada juga yang sebagian dari petaninya mendapat bayaran dengan berbagi hasil panen kepada si pemilik lahan. Pur berharap, kedepannya kesejahteraan petani bisa terus membaik sehingga mereka tidak perlu lagi menjual lahannya.

"Iya memang ada yang dibayar tunai, ada yang sesuai bagi hasil. Ya mudah-mudahan lahan sawah nggak banyak tergusur dan kebijakan pemerintah mampu mendukung kesejahteraan para petani," tandasnya.

(hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up